Cari Blog Ini

Laman

Tampilkan postingan dengan label BLOK Biomolekuler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLOK Biomolekuler. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Down Syndrome

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
              Sejak dahulu orang mengetahui dari pengalaman sehari-hari bahwa anak itu kerapkali memiliki sifat-sifat seperti orangtuanya, tidak saja mengenai kejasmaniannya tetapi juga mengenai kejiwaannya dan tingkahlakunya. Seringkali dikatakan juga bahwa dari si ayah dapat dikenal si anak, sebaliknya pun dari si anak dapat dikenal si ayah. Namun demikian tidak ada seorang pun di dunia ini yang persis benar dengan orang lain. Semua orang memiliki perbedaan-perbedaan sifat keturunannya, yang dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas. Akan tetapi karena sifat yang merugikan itu tidak selalu memperlihatkan ekspresinya maka orang yang sesungguhnya memiliki sifat yang merugikan itu selalu menganggap dirinya normal.
Keabnormalitasan materi genetik dapat menimbulkan berbagai penyakit baik yang dapat diturunkan secara genetika ataupun yang tidak dapat diturunkan. Seperti halnya dalam kasus Down Syndrom yang tingkat kejadiannya cukup tinggi tersebut. Banyak faktor yang dapat menyebabkan penyakit tersebut sehingga bisa dikatakan bahwa penyakit tersebut tidak selalu genetik dari orang tuanya.

Skenario
              Seorang ibu (37 tahun) mendatangi bidan desa yang dulu membantu persalinan anak perempuannya untuk mengkonsultasikan anaknya (usia 12 bulan dan berat badan 7,5 kg) yang Belem bisa dusuk sendiri. Abak tersebut lahir normal dengan berat 2,5 kg dan baru bisa tengkurap saat berusia 6 bulan. Hasil pemeriksaan bidan menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan perkembangan psikomotor. Untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang lebih baik, bidan desa tadi menyarankan agar anak tersebut dikonsultasikan ke bagian anak di RS besar yang lengkap di kota.
              Hasil pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis anak menunjukkan microcephaly, flat nasal bridge, upward slanting palpebral fissure (mata sipit dengan epicanthal folds), hidung pesek, macroglassia, mulut sering terbuka, single transverse palmar crease, clinodactyly pada jari tangan ke-5, antara jari jempol kaki dan jari ke-2 terpisah lebar, flat feet, kulit nampak keriput (dry skin), dan anak nampak ”floopy”. Hasil pemeriksaan kariotipe menunjukkan adanya trisomi 21.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.  Apakah nama penyakit yang di derita anak tersebut?
2.  Bagaimana keterlibatan materi genetik dalam penyakit tersebut?
3.  Bagaimana patogenesis dan patofisiologi penyakit tersebut?
4.  Bagaimana cara deteksi dini penyakit tersebut?
5.  Bagaimana cara rehabilitasi penyakit tersebut?

C.    TUJUAN
1.      Mengetahui faktor-faktor terjadinya down syndrome
2.      Mengetahui ekspresi gen pada kromosom 21.
3.      Memahami letal-letak kromosom yang menyebabkan trisomi.
4.      Memahami cara deteksi dini down syndrome.
5.      Mengetahui penatalaksanaan pasien down syndrome.

D.    MANFAAT
1.      Mahasiswa dapat menetapkan diagnosis penyakit di bidang genetik dan molekuler berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
2.      Mahasiswa mampu melakukan pencegahan pada penyakit genetika dan molekuler.


BAB II
STUDI PUSTAKA

A.    KLARIFIKASI ISTILAH
1.      Microchepaly
Pengecilan kepala yang abnormal, biasanya disertai dengan retardasi mental (Dorland, 2006)). Ukurannya 2 kali lebih kecil dari normal (wikipedia, 2008). Hal ini desebabkan karena otak gagal tumbuh dan akibatnya otak gagal berekspansi (Sadler, 2000).
2.      Epicanthal folds
Lipatan kulit vertikal pada sisi hidung, terkadang menutupi kantus (sudut pada kedua ujung fisura antara kedua kelopak mata) sebelah dalam (Dorland, 2006).
3.      Macroglossia
Ukuran lidah yang berlebihan (Dorland, 2006), sehingga lidah menjulur keluar dan mulut selalu terbuka.
4.      Clinodactyly
Deviasi / defeksi lateral / medial yang permanen pada 1 jari / lebih (Dorland, 2006). Terjadi pembengkokan pada jari ke-5.
5.      Flat feet
Keadaan dengan satu atau lebih lengkung kaki mendatar atau menurun, disebut juga pes planovaldus (Dorland, 2006).
6.      Single transverse palmar crease
Pada telapak tangan hanya terdapat 1 garis pada transversal (Suryo, 2008).

B.     GEN
Gen adalah segmen molekul DNA yang mengandung semua informasi yang diperlukan untuk sintesis produk (rantai polipeptida atau molekul RNA), yang termasuk rangkaian pengkodean dan nonpengkodean. Ini merupakan unit biologi keturunan, reproduksi sendiri, dan ditularkan dari orang tua ke anak-anak. Setiap gen memiliki posisi spesifik (lokus) pada peta kromosom. Dari segi fungsinya, gen mencakup gen struktural, operator, dang en pengatur (Dorland, 2006). Bisa dikatakan, gen merupakan DNA, namun DNA belum tentu gen (Jarot, 2008). Letak gen yang menyebabkan Down Syndrome dapat dilihat pada Gambar1.

C.    TRISOMI
Trisomi adalah terdapatnya kromosom tambahan satu tipe dalam statu sel diploid (Dorland, 2006). Individu trisomi memiliki kelebihan sebuah kromosom jika dibandingkan dengan individu disomi / diploid (2n+1). Individu ini akan membentuk 2 macam gamet, yaitu gamet n dan gamet n+1 (Suryo, 2008). Trisomi merupakan salah satu jenis dari aneuploidi, yaitu pengurangan dan penambahan jumlah kromosom yang disebabkan adanya nondisjunction. Terjadinya trisomi dapat dilihat pada Gambar 2.
Trisomi merupakan akibat dari aberrasi kromosom dalam jumlah kromosomnya. Aberrasi kromosom merupakan sebutan untuk mutasi pada kromosom. Trisomi seniri dapat dibedakan atas trisomi untuk kromosom sex dan untuk kromosom autosom. Syndrome Down tergolong dalam trisomi pada autosom. Trisomi autosom tidak hanya terjadi pada kromosom 21 saja, namun dapat terjadi pada kromosom-kromosom lain, diantaranya trisomi 13 (Patau Syndrome), trisomi 18 (Edward Syndrome), trisomi C, D, E, 7, 1, 5, 12, 17,19, dan berbagai macam lagi yang menimbulkan penyakit-penyakit tersendiri. Sedangkan untuk trisomi pada kromosom sex dapat menyebabkan Klinefelter Syndrome, Turner Syndrome, Triple-X Syndrome, dan  pria XYY.

D.    NONDISJUNCTION
Nondisjunction adalah Kegagalan dua kromosom homolog untuk memisahkan sel-sel yang membelah selama divisi meiosis I atau 2 kromatid sebuah kromosom untuk memisahkan sel-sel yang membelah selama mitosis atau divisi meiosis II sebagai akibatnya, satu sel anak mempunyai satu kromosom tambahan dan yang lain mempunyai satu kromosom (Dorland, 2006). Nondisjunction dapat terjadi pada meiosis I dan II atau selama mitosis (Mujosemedi, 2008), namun kemungkinan terjadinya pada waktu meiosis I 3x lebih besar dari pada waktu meiosis II. Terjadinya nondisjunction dapat dilihat pada gambar 3.
Ada beberapa pendapat tentang mengapa terjadi nondisjunction, yaitu :
1.  Mungkin disebabkan adanya virus atau ada kerusakan akibat radiasi. Gangguan ini makin mudah berpengaruh pada wanita yang berumur tua.
2.      Mungkin disebabkan adanya pengandungan antibody tiroid yang tinggi.
3.   Sel telur akan mengalami kemunduran, apabila setelah satu jam berada di dalam saluran fallopi tidak dibuahi. Oleh karena itu, para ibu yang berusia agak lanjut (melebihi umur 35  tahun) biasanya akan menghadapi risiko lebih besar untuk mendapatkan anak Down Syndrome Triple 21.
(Suryo, 2008)

E.     TRANSLOKASI
Translokasi ahíla peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom, disebabkan karena statu potongna kromosom bersambungan dengan potongan kromosom lanilla yang bukan homolognya (Suryo, 2008). Pada kasus Down Syndrome, biasanya diperoleh dari kromosom ibu yang terdapat translokasi sedangkan ayah normal. Kromosom tersebut nampak berjumlah 46 kromosom, padahal kromosom yang seharusnya terdapat pada kromosom 21 menempel pada kromosom lain (biasanya 14 atau 15).

F.     KARIOTIPE
Kariotipe merupakan pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah, serta bentuk kromosom dari sel somatis suatu individu. Sebelum melakukan kariotipe, dilakukan kultur jaringna terlebih dahulu. Mula-mula mengambil 5 cc darah vene. Sel-sel darah dipisahkan, bubuhkan pada médium yang mengandung phytohaemoglutinin (PHA). Kemudian sel leukosit dipelihara dalam keadaan steril pada temperatur 37oC dalam 3 hari. Saat sel membelah dibubuhkna zat kolkhisin untuk menghentikan pembelahan sel pada fase metafase. Setelah satu jam ditambahkan larutan hipotonik, sehingga sel-sel membesar dan kromosom menyebar letaknya. Kromosom dipotret dan digunting lalu diurutkan dari yang terpanjang (Suryo, 2008).

 BAB III
PEMBAHASAN

Down Syndrome adalah merupakan suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom (Akhiruddin, 2008). Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadinya pembelahan (Wikipedia, 2008). Kelainan ini terjadi pada autosom. Maka penderita Down Syndrome dapat laki-laki ataupun perempuan. Penderita Down Syndrome biasanya memiliki cirri-ciri microcephaly, flat nasal bridge, upward slanting palpebral fissure (mata sipit dengan epicanthal folds), hidung pesek, macroglassia, mulut sering terbuka, single transverse palmar crease, clinodactyly pada jari tangan ke-5, antara jari jempol kaki dan jari ke-2 terpisah lebar, flat feet, kulit nampak keriput (dry skin), iris mata terkadang berbintik (bintik-bintik “Brushfield”), pertumbuhan gigi terganggu, kelainan jantung, tidak resisten terhadap penyakit (Suryo, 2008), ototnya lemah, sehingga mereka menjadi lembek dan menghadapi masalah lewat dalam perkembangan motor kasar. Penderita Down Syndrome memiliki retardasi mental dari yang rendah (imbesil)  sampai yang berat (idiot). IQ rendah, yaitu antara 25 – 75, kebanyakan kurang dari 40 (Suryo, 2008).
Etiologi dari Down Syndome dapat dibagi menjadi 4, yaitu (Akhiruddin, 2008) :
1.      Trisomi 21 (SyndromDown Triplo 21) atau trisomi murni
Trisomi 21 (47,XX,+21) / (47,XY,+21) disebabkan oleh nondisjunction. Akibatnya sel gamet dihasilkan dengan tambahan salinan kromosom 21, dengan itu sel gamet memiliki 24 kromosom. Apabila berkabung dengna gamet normal dari pasangannya, embrio ini mempunyai 47 kromosom, maka satu gamet akan memiliki dua copy dari kromosom 21.
2.      Mosaicism (Mozaic Down Syndrome)
Sekitar 1% individu memiliki dua macam sel, sebagian sel memiliki jumlah kromosom normal (46 kromosom), sebagian lain memiliki jumlah kromosom lebih (47 kromosom) (Tim Genetika Medik FK UWKS, 2007). Keadaan ini dapat terjadi dengan dua cara, yaitu nondisjunction pada awal pembagian sel pada embrio normal mendorong terbentuknya pembelahan sel dengan trisomi 21, atau embrio Down Syndrome mengalami nondisjunction pada setengah sel pada embrio kembali normal.
3.      Translokasi Robertsonian
Lengan panjang dari autosom 21 melekat pada autosom lain, biasanya 14 atau 15. Penderita ini nampak seperti memiliki 46 kromosom, satu kromosomnya adalah kromosom translokasi t(14q21q), namun sebenarnya ada 47 kromosom. Anak ini terjadi dari ibu yang memiliki 45 kromosom, dengan satu kromosomnya adalh kromosom translokasi, kenmudian bertemu dengan kromosom normal milik ayahnya (Suryo, 2008).
4.      Gandaan sebagian kromosom 21
Kromosom 21 akan melalui penyalinan, yang mengakibantkan salinan tambahan sebagian, tetapi bukan semua gen pada kromosom 21 (46,XX,dup(21q)). Pada pembelahan kromosom yang seharusnya vertikal, menjadi horozontal, kemudian, salah satu kromosom bagian atas mereduksi, sedangkan bagian bawah menduplikasi.
Tidak semua Down Syndome diturunkan, tergantung etiologi dari penyakit tersebut. Untuk trisomi murni dan mosaici tidakditurunkan, karena kesalahan baru terjadi pada proses pembelahan sel pada embrio, sedangkan translokasi bersifat menurun (Suryo, 2008). Down Syndrome diturunkan dari ibu dan tidak bisa dari ayah. Umur ibu merupakan faktor terbesar terjadinya Down Syndrome (Silvya and Lorraine, 2005). Penyakit ini juga dapat disebabkan karena mutasi. Gen-gen yang terdapat di dalam kromosom 21 yang bisa menimbulkan Down Syndrome antara lain Superoxide Dismutase (SOD1) menyebabkan penuaan dini, COL6 A1 menyebabkan serangan jantung, ETS2 menyebabkan gangguan tulang, CAF1A dapat mengganggu sintesis DNA, Cystathione Beta Synthase (CBS) dapat mengacaukan metabolisme dan DNA Repair, DYRK menyebabkan mental retardation, CRYA1 menimbulkan katarak, GART dapat mengacaukan sintesis DNA dan repair, serta IFNARdapat memepengaruhi sistem imun. Gen-gen tersebut mengalami over ekspresi karena peningkatan jumlah kromosom 21, sehingga protein yang dihasilkan juga akan berbeda (Leshin, 2000)
Untuk mendeteksi adanya penyakit Down Syndrome ini, dapat dilakukan berbagai cara, antara lain pengambilan cairan ketuban dalam kandungan (amniocentesis) sebanyak 10 – 20 cc dengan jarum injeksi pada kehamilan 14 – 16 minggu dan setelah 2 – 3 minggu akan dibuat kariotipenya (Suryo, 2008), CVS (Chorionic Villus Sampling) untuk diperiksa kromosomnya pada usia kehamilan 8 – 10 minggu (Tim Genetika Medik FK UWKS, 2007), pemeriksaan darah pada ibu yang disebut ”triple screen” pada usia kehamilan 15 – 22 minggu untuk mengetahui tingkat risiko terjadinya Down Syndrome dengan menggunakan tiga penanda, yaitu alpha-fetoprotein (AFP), unconjugated estriol (uE3), dan human chorionic gonadotropin (hCG), bisa juga ditambah Inhibin A untuk diukur kadarnya sehingga disebut ”quadruple screen”, deteksi juga bisa menggunakan ultrasound yang menunjukkan adanya hubungan antara ukuran nuchal translucency (cairan yang tekumpul di belkang leher janin) dengan Down Syndrome, dengan ultrasound akan terdeteksi bercak-bercak putih pada usus dan jantung serta pelebaran saluran ginjal pada janin ( I Nyoman, 2008).
Down Syndrome tidak dapat disembuhkan, yang dapat diusahakan adalah  menjaga agar kesehatan anak Down Syndrome agar tetap optimal (Tim Genetika Medik FKUWKS, 2007). Penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup. Intervensi dini untuk ganguan perkembangan untuk optimalisasi kognitif dan progress social, perhatian khusus pemberian makan dan status nutrisi untuk mendukung kesulitan makan pada masa bayi dan pencegahan obesitas pada masa anak dan remaja. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan dengan kurva khusus Sindrom Down dan tahapan perkembangan sesuai Sindrom Down (Akhiruddin, 2008). Penderita biasanya berumur maksimal 20 tahun, akan tetapi dengan tersedianya berbagai macam antibiotika dapat memperpanjang umur (Suryo, 2008).

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
Down Syndrome merupakan penyakit akibat kelainan pada kromosom autosom yang bisa diturunkan secara genetis dan ada yang tidak menurun. Penyebab sindroma down adalah adanya over ekspresi dari gen-gen yang ada pada kromosom 21 karena bertambahnya jumlah gen pada kromosom 21, dapat berupa trisomi murni, mosaicism, translokasi robertsonian, dan duplikasi kromosom 21. Penyakit ini sudah dapat di deteksi sejak bayi berada di dalam janin ibu dengan banyak cara baik secara molekuler maupun dengan penglihatan organ dalam menggunakan ultrasound. Untuk menangani penyakit ini hanya bisa menjaga agar kondisi pasien tetap optimal dan pemberian antibiotic untuk memperpanjang usia karena memang penyakit ini belm bisa disembuhkan.

B.     SARAN
1.      Wanita disarankan menghindari kehamilan pada usia di atas 35 tahun.
2.      Selalu menjaga pola hidup sehat terutama bebas dari alkohol dan rokok.
3.      Bagi wanita hamil disarnkan rajin memeriksakan kesehatan kandungannya.
 
DAFTAR PUSTAKA

 Dorland, W.A. Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland-Edisi 29. Jakarta: EGC.
 Leshin, Len. 2000. Trisomy 21: The Story Of Doen Syndrome. http://www.pubmedcentral.nih.gov
 Mujosemedi. 2008. Siklus Sel Mitosis dan Meiosis. Unpublished paper presented at Kuliah Blok Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran UNS.
 ---------. 2008. Sitogenetika. Unpublished paper presented at Kuliah Blok Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran UNS.
 Price, Sylvia Anderson and Lorraine McCarty Wilson. 2005. Patofisiologi Vol.1. Jakarta: EGC.
 Sanjaya, I Nyoman Hariyasa. 2008. Down Síndrome: Apa Yang Anda Perlu Ketahui Saat Anda Hamil. http;//husadautamahospital.com/rain/files/Downsyndrome.pdf
 Subandono, Jarot. 2008. Mutasi DNA. Unpublished paper presented at Kuliah Blok Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran UNS.
 Suryo. 2008. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
 Suryo, Sadler.T.W. 2000. Embriologi Kedokteran Langman. Yakarta: EGC.
 Tim Genetika Medik FK UWKS. 2007. Kelebihan Kromosom 21 Penyebab retaraasi Mental. http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=5471
 Wikipedia. 2008. Sindrom Down. http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_Down

Colour Blindness

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
              Sejak dahulu orang mengetahui dari pengalaman sehari-hari bahwa anak itu kerapkali memiliki sifat-sifat seperti orangtuanya, tidak saja mengenai kejasmaniannya tetapi juga mengenai kejiwaannya dan tingkahlakunya. Seringkali dikatakan juga bahwa dari si ayah dapat dikenal si anak, sebaliknya pun dari si anak dapat dikenal si ayah. Namun demikian tidak ada seorang pun di dunia ini yang persis benar dengan orang lain. Semua orang memiliki perbedaan-perbedaan sifat keturunannya, yang dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas. Akan tetapi karena sifat yang merugikan itu tidak selalu memperlihatkan ekspresinya maka orang yang sesungguhnya memiliki sifat yang merugikan itu selalu menganggap dirinya normal.
              Kemajuan dalam bidang Biokimia memungkinkan para ahli menetapkan struktur serta susunan bahan genetika, yang berupa asam deoksiribonukleat atau AND dan asam ribonukleat atau ARN. AND dan ARN merupakan komponen penting pada gen yang mengatur sintesa protein. Di samping itu dikenal pula berbagai macam penyakit bawaan karena kesalahan metabolisme di dalam tubuh orang. Misalnya saja penyakit buta warna yang terjadi karena pautan  sex kromosom X. Penyakit ini biasanya baru disadarinya ketika sudah beranjak dewasa dan belum tentu orang tua atau saudara kandungnya mengalami hal yang sama dengannnya.
Berikut ini adalah skenario yang akan dibahas pada laporan ini.
              Muchlis, usia 19 tahun, baru saja lulus SMA, bercita-cita ingin menjadi seorang arsitek. Untuk mencapai cita-citanya Muchlis mengikuti bimbingna belajar sebagai persiapan masuk ujian PT. Pada saat konsultasi pemilihan jurusan dan analisis hasil relajar, Muchlis Sangay mungkin diterima pada jurusan Arsitek. Berhubung jurusan arsitektur mensyaratkan calon mahasiswa tidak buta warna, bimbingan relajar memberikan rujukan tes buta warna pada seorang dokter mata. Ternyata Muchlis dinyatakan buta warna. Dengan Sangay kecewa Muchlis bertanya mengana dia buta warna, padahal kayak laki-laki, adik perempuan serta kedua orang tuanya tidak buta warna. Menurut informasi orang tuanya, kakek Muchlis juga tenderita buta warna.

B.     RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana struktur DNA dan kromosom?
  2. Bagaimana proses pembelahan sel?
  3. Bagaimana proses dari regulasi genetic itu?
  4. Bagaimana cara mendeteksi buta warna?
  5. Apa yang dimaksud dengan mutasi dan DNA repair system?
  6. Apa saja faktor yang mempengaruhi terjadinya buta warna?
  7. Bagaimana patofisiologi buta warna?
  8. Bagaimana penatalaksanaan penyakit buta warna?

C.    TUJUAN
1.      Mengetahui struktur DNA dan Kromosom
2.      Mengetahui proses-proses dan tahapan pembelahan sel (mitosis dan meiosis)
3.      Memahami proses-proses regulasi genetik yaitu transkripsi, translasi, dan replikasi
4.      Mengetahui tes buta warna (ishihara test)
5.      Mengetahui macam-macam mutasi dan DNA repair system
6.      Mengetahui faktor eksogen dan endogen dari etiologi buta warna
7.      Mengetahui patofisiologi dari buta warna
8.      Mengetahui alternatif pemecahan dari penyakit buta warna

D.    MANFAAT
1.      Mahasiswa mengetahui struktur DNA< RNA< dan kromosom.
2.      Mahasiswa mengetahui regulasi genetika.
3.      Mahasiswa penyebab dan cara pencegahan buta warna.

 BAB II
STUDI PUSTAKA

A.    MOLEKUL DNA
DNA merupakan suatu bahan genetik yang mengandung informasi genetik yang berbentuk pita spiral dobel yang saling berpilin atau disebut juga “double helix” (Suryo, 2005). Dalam 1 putaran helix terdiri dari 10 nukleotida (Mujosemedi, 2008)dengan jarak antar basa 0,34 nm, sehingga sebuah pita spiral dalam “double helix” membuat satu spiral penuh setiap 3,4 nm. Lebar molekul AND adalah tetap, yaitu 2 nm.
Nukleotida bila terurai terdiri atas gula, pospat dan basa. Molekul gula yang menyususn DNA adalah deoksiribosa. Basa nitrogen yang menyususn DNA dibedakan atas kelompok pirimidin, yang terdiri dari sitosin dan timin, dan purin, yang terdiri dari adenine dan guanine.

B.     REPLIKASI DNA
Replikasi adalah duplikasi asan nukleat dari sebuah “template” (Mujosemedi, 2008). Ada 3 teori mengenai replikasi DNA :
1.      Replikasi Konservatif
2.      Replikasi dispersif
3.      Replikasi semikonservatif
Dari ke tiga teori tersebut, yang dapat diterima adalah replikasi semikonservatuf. Replikasi semikonservatif adalah model replikasi DNA yg mana “parent strands” berpisah, dan masing-masing strands (pita) bertindak sbg template untuk sintesis strand baru. Masing-masing molekul DNA anakan (“daughter”) td satu “parent strand” dan satu strand baru yg disintesis. Ide ini dikemukakan oleh Watson dan Crick (Mujosemedi, 2008)

Enzym-enzym yang berperan dalam proses replikasi, yaitu Mujosemedi, 2008):
1.      ”DNA topoisomerase (DNA gyrase)” : mengkatalisis interkonversi isomer topologis DNA
2.      Helicase : melepaskan “parental DNA helix”.
3.      “RNA polymerase” (primase) : mensintesis RNA pendek yg dipanjangkan (extended) oleh DNA polymerase III.
4.      “DNA polymerase III” : mengkatalisis sintesis strand DNA baru pd sebuah template DNA dg penambahan suksesif nukleotida pd ujung 3’OH pd sebuah “primer RNA” atau sebuah “growing DNA strand”.
5.      “DNA polymerase I & II” : berfungsi dlm repair DNA editing.
6.      DNA ligase : menyambung fragment DNA pd “lagging strands”.

C.    TRANSKRIPSI
Transkripsi adalah proses dimana informasi yang terdapat pada DNA dikopi ke dalam molekul RNA single strand oleh enzym RNA polymerase (Mujosemedi, 2008).


D.    TRANSLASI
Translasi adalah proses dimana informasi genetik yang ada dalam molekul mRNA ditranslate ke dalam sebuah polypeptide (Mujosemedi, 2008).

E.     KROMOSOM
Kromosom dari bahasa latin krom yang berarti warna dan soma yang berati tubuh. Kromosom berfungsi sebagai pemindah sifat genetik. Zat yang menyususnnya disebut kromatin. Secara umum bagian-bagian dari kromosom adalah sebagai berikut (Suryo, 2005) :
1.      Kromonema
Merupakan pita berbentiuk spiral di dalam kromosom.
2.      Kromomer
Penebalan di beberapa tempat dalam kromososm, dianggap para ahli sebagai bahan nukleoprotein yang mengendap.
3.      Sentromer
Pembentuk tipe kromosom dan membantu saat pembelahan kromosom.
4.      Lekukan sekunder
Tempat terbentuknya nukleolus atau disebut juga pengatur nukleotida.
5.      Telomer
Bagian dari ujung kromosom yang mengahalangi bersambungnya kromosom satu dengan kromosom lainnya.
6.      Satelit
Bagian yang merupakan tambahan pada ujung kromososm.

Gambar Kromosom. (1) Kromatid. Salah satu dari dua bagian identik kromosom yang terbentuk setelah fase S pada pembelahan sel. (2) Sentromer. Tempat persambungan kedua kromatid, dan tempat melekatnya mikrotubulus. (3) Lengan pendek (4) Lengan panjang.
F.     PEMBELAHAN SEL (SIKLUS SEL)
Pembelahan sel adalah seri kejadian yang terjadi pada sel eukaryotik yang menyebabkan replikasi sel (Mujosemedi, 2008).
1.      Mitosis
Mitosis merupakan pembelahan sel yang terjadi pada sel tubuh (soma) yang menghasilkan 2 sel anakan yang identik dengna sel induk dengan tipe kromosom diploid. Mitosis memiliki empat fase, yaitu profase, metafase, anafase dan telofase, yang diawali dengan interfase dan diakhiri dengan sitokinesis.
Interfase
Terdiri dari fase G1, fase S, dan fase G2. Dalam fase G1 (12 jam) terjadi síntesis dan akumulasi protein dalam sitoplasma yang dibarengi dengna pertumbuhan sel. Selama fase S (7 jam), síntesis proteinberlanjut terutama di dalam inti sel dalam proses pembukaan histon. Akhir dari fase S, inti sel berisi 2 komponen penuh dari material genetik, baru kemudian masuk ke fase G2 (4 jam) dalam persiapan pembagian inti (Djoko, 2000)

Profase
Kromatin dalam nukleu memadat,sentriol mulai bergerak ke arah kutub yang berlawanan dan mulai terbentuk benang-benang spindel.
Prometafase
Membran inti menghilang dan kromosom mulai menempatkan diri pada bidang ekuatorial. 
Metafase
Sentromer membelah dan ujung benang-benang spindle mencapai kromosom dan memegang sentromer. 
Anafase 
Pasangan kromosom berpisah menuju kutub yang berlawanan. 
Telofase 
Dinding sel terbentuk kembali dan pasangan kromatid sudah mencapai kutub masing-masing. Benang spindle sudah tidak nampak dan terbentuk lekukan agar sel menjadi dua. 
Sitokinesis 
Berakhir ketika “fiber ring yang tersususn dr protein actindi sekitar pusat dari sel mengerut yang menangkapa sel ke dalama 2 sel anakan, masing-masing dengna 1 nukleus.
2.      Meiosis
Meiosis adalah pembelahan reduksi yang mana jumlah kromosom per sel dikurangi setengah (Mujosemedi, 2008). Terjadi pada sel gamet dan sifat sel anakan tidak identik dengan sifat induk.Akan menhasilkan 2mpat sel anakan yang haploid. Meiosis berlangsung dalam 2 tingkatan, yaitu meiosis I dan meiosis II. Urut-urutan dari fase satu ke berikutnya sama dengan mitosis. Hanya karena pada tahap profase Iberlangsung lama, maka dibagi lagi menjadi 5 tahap (Suryo, 2005), yaitu Leptonema, Zigonema, Pakinema, Diplonema, dan Diakinesis. LATU pada meiosis 2, langsung ke metafase, karena pada meiosis I sudah terjadi Profase, sehingga kromosom sudah Sian untuk membelah.

G.    MUTASI
Mutasi merupakan perubahan materi genetik (DNA) dari statu sel yang dapat diwariskan secara genetis kepada keturunanannya. Mutan adalah sebutan bagi yang mengalami mutasi. Sedangkan factor penyebab mutasi disebut mutagen. Berdasarkan tempat terjadinya, mutasi dibagi menjadi dua :
1.  Mutasi Genetik (pada sel gamet, trjadi sebelum meiosis)
2.  Mutasi Somatik (pada sel tubuh, sebelum mitosis)
Tetapi secara umum mutasi terbagi atas:
1.      Mutasi Genp (point mutation)
a.       Substitusi pasangan basa
·         Transisi (substitusi purin oleh purin atau pirimidin oleh pirimidin)
·         Transversi (Substitusi purin oleh pirimidin atau sebaliknya)
b.      Pergeseran rangka
·         Insersi (penambahan satu atau lebih pasangan basa pada statu gen)
·         Delesi (pengurangan satu atau lebih pasangan basa pada statu gen)

2.      Mutasi kromosom
a.       Perubahan struktur kromosom
b.      Perubahan set kromosom
·         Autopoliploidi
·         Allopoliploidi hibridisusi
c.       Perubahan penggandaan (Aneusomik)
·         Monosomik (2n-1)
·         Nulisomik (2n-2)
·         Trisomik (2n+1)
·         Tetrasomik (2n+2)
H.    DNA REPAIR SYSTEM
Merupakan suatu system pada gen untuk memperbaiki basa DNA yang rusak akibat mutasi.
Perbaikan dapat berupa:
1.      Perbaikan kode DNA
a.       Direct chemical reversal (pembalikan pada kerusakan)
b.      Basa yang rusak dilepas dan diganti dengan basa yang benar yang komplementer dengan basa pada pita DNA yang tidak rusak.
Ada tiga model : Base Excision Repair (BER), Nucleotide Excision Repair (NER), dan Mismatch Repair (MMR)
2.      Apoptosis
Suatu mekanisme DNA yang terjadi bila perbaikan DNA tidak dapat dilakukan sehingga DNA memberikan instruksi pada dirinya sendiri untuk menghancurkan diri. Basa DNA rusak yang telah dihancurkan ini tidak akan menyebabkan mutasi lebih jauh. Apoptosis merupakan suatu kematian sel karena DNA menghancurkan dirinya sendiri akibat terjadi kekeliruan DNA yang tidak bisa diatur kembali, lalu akan mengalami fagosit oleh makrofag (Dorland, 2006).
  
BAB III
PEMBAHASAN

Buta warna (color blindness) adalah penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif c (asal dari perkataan inggris “colr blin”) (Suryo, 2005). Buta warna merupakan kelainan genetik/bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Kelainan ini sering juga disebut sex linked (pautan sex), karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna laki-laki dan wanita, seorang wanita terdapat istilah ‘pembawa sifat’ (carier). Hal ini menunjukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna sebagaimana wanita normal umumnya. Namun, bila kedua kromosom X mengandung buta warna, maka wanita ttersebut menderita buta warna (Wikipedia, 2008). Tidak heran jika pada kasus dalam skenario tersebut terjadi buta warna pada seorang anaknya dimana saudara-saudara dan kedua orang tuanya tidak mengalami hal yang sama. Hal tersebut diperjelas dengan kakek dari anak tersebut juga mengalami buta warna. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada keturunan atau pembawa sifat buta warna dalam keluarga tersebut.
Buta warna merupakan suatu kelainann yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spectrum warna akibat faktor genetis (Wikipedia, 2008). Buta warna sendiri dapat dikllasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu trikromasi, dikromasi, dan monokromasi. Buta warna jenis trikromasi adalah perubahan sensifitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut.Jenis buta inilah yang paling sering dialami dibandingkan jenis buta warna lainnya. Ada tiga macam trikomasi, yaitu protanomali, yang merupakan kelemahan warna merah, deuteromali, yaitu kelemahan warna hijau, dan tritanomali, yaitu kelemahan warna biru. Dikromasi merupakan tidak adanya satu dari tiga jenis sel kerucut (Wikipedia, 2008). Dikromasi juga tiga jenis, terdiri dari protanopia, yaitu tidak adanya sel kerucut warna merah sehingga kecerahan warna merah perpaduannya berkurang, deuteranopia, yaitu tidak adanya sel kerucut yang peka terhadap hijau (Guyton dan Hall, 2007), dan tritanopia untuk warna biru. Sedangkan monokromasi ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya semua penglihatan warna, sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada jenis typical dan sedikit warna pada jenis atypical (Wikipedia, 2008). Jenis ini sering disebut dengna buta warna total.
DNA yang terdapat didalam kromosom menghantarkan kode genetik yang mempunyai arti sendiri untuk setiap asam amino. DNA selalu melakukan regulasi yang terdiri dari replikasi, transkripsi, dan translasi. Namun, dalam prosesnya, terkadang tidak berjalan lancar, yang berakibat terjadinya kesalahan pada kromosom. Kesalahan kromosom pada buta warna bisa disebabkan oleh mutasi. Untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi pada DNA yang mempengaruhi kelainan pada kromosom, DNA akan mengadakan perbaikan yang disebut dengnan DNA repair system. Namun, jika perbaikan tersebut gagl bisa berakibat pada mutasi.
Buta warna dapat di tes dengan tes ishihara, dimana lingkaran-lingkaran berwarna yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna (Wikipedia, 2008). Tes buta warna (ishihara tes) adalah suatu tes untuk menentukan buta warna pada pasien yang menggunakan gambar-gambar berbentuk lingkaran-lingkaran berwarna dimana kombinasi warna pada lingkaran tersebut dapat membentuk suatu angka / huruf.
Sebenarnya buta warna tidak hanya disebabkan oleh faktor endogen saja, seperti hereditas, namun juga bisa dipengaruhi oleh faktor eksogen, seperti terkena sinar radiasi. Buta warna memang tidak ada obatnya, namun hal ini bisa dicegah dengan euteniks (perbaikan sosial melalui pengubahan lingkungan) dan eugenetika (perbaikan sosial melalui penggunaan prinsip-prinsip hereditas) (Anonim, 2008). Meskipun belum ada obatnya, di Amerika telah dilakukan suatu penelitian dan menghasilkan teknologi yang canggih untuk membantu penderita buta warna, yaitu dengna memasang sebuah chip yang disebut complementary metal oxide semiconductore (CMOS) dan teknik bipolar CMOS. Chip ini dipasang pada retina untuk menggantikan fungsi sel kerucut tersebut dalam menangkap warna (Molecular Expressions, 2008).

 BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
Buta warna merupakan penyakit genetik yang tidak bisa disembuhkan. Buta warna bisa dicegah dengan memperbaiki keadaan lingkungan (euteniks) dan penggunaan pedoman silsilah hereditas (eugenetika). Namun, sudah ada sebuah chip untuk membantu penderita buta warna. Penyakit ini bisa disebakan dari faktor luar dan dalam. Faktor dalam berasal dari genetis, yang juga bisa dipengaruhi oleh terjadinya mutasi dalam materi genetik tersebut. Sedangkan faktor luar bisa karena sinar. DNA yang merupakan materi genetik terdapat di dalam kromosom selalu melakukan regulasi genetik dan langsung melakukan perbaikan jika terjadi suatu kesalahan dalam prosesnya. Selain DNA yang melakukan replikasi, inti sel tempat terdapatnya DNA juga mengalami pembelahan sel. Pembelahan tersebut meliputi pembelahan di sel tubuh (mitosis) dan pada sel gamet (meiosis).

B.     SARAN
1.      Sebelum menikah hendaknya mempertimbangkan aspek genetika untuk memotong alur penurunan genpembawa sifat penyakit genetik.
2.      Mahasiswa lebih mengenal dari struktur kromosom, DNA< RNA, karena berkaitan dengan pemwaan sifat genrtik.

 DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A. Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland-Edisi 29. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Molecular Expressions. 2008. Human Vision and Color Perception. http://micro.magnet.fsu.edu/primer/lightandcolor/humanvisionintro.html
Mujosemedi. 2008. DNA, RNA, dan Replikasi. Unpublished paper presented at Kuliah Blok Biologi Molekuler Ilmiah Fakultas Kedokteran UNS.
---------. 2008. Transkripsi dan Translasi. Unpublished paper presented at Kuliah Blok Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran UNS.
Pranowo, Djoko. 2000. Pedoman Kuliah Asam Nukleat. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Bioteknologi UGM.
Suryo. 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Wikipedia. 2008. Buta Warna. http://id.wikipedia.org/wiki/Buta_warna.