Cari Blog Ini

Laman

Tampilkan postingan dengan label Laporan Field Lab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Field Lab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Posyandu Lansia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menurut Pusat Statistik, jumlah Lansia di Indonesia sampai pada tahun 2010 diperkirakan sekitar 23,9 juta jiwa atau sekitar 9,77% dari jumlah penduduk total, dan jumlah ini meningkat terus menerus secara signifikan (Hanim dkk, 2010). Data lain yaitu menurut laporan data demografi penduduk internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of the Census United States of America (1993), dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990-2025 akan mengalami kenaikan jumlah Lansia sebesar 414%, yang merupakan angka yang paling tinggi di seluruh dunia. Hal ini merupakan konsekuensi logis berhasilnya pembangunan, yaitu bertambahnya usia harapan hidup dan bertambah banyaknya jumlah Lansia di Indonesia (Darmojo, 2007).

Selasa, 31 Mei 2011

Penyuluhan Penyakit Menular Seksual (PMS)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks. Penyakit menular seksual akan lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. PMS dapat menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan dan bahkan kematian. Wanita  lebih beresiko untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki sebab mempunyai alat reproduksi yang lebih rentan. Dan seringkali berakibat lebih parah karena gejala awal tidak segera dikenali, sedangkan penyakit melanjut ke tahap lebih parah.Oleh karena letak dan bentuk kelaminnya yang agak menonjol, gejala PMS pada laki-laki lebih mudah dikenali, dilihat, dan dirasakan. Sedangkan pada perempuan sebagian besar gejala yang timbul hampir tak dapat dirasakan.

Kamis, 26 Mei 2011

Penyelidikan Epidemiologi DBD


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Semakin lama jumlah dokter semakin bertambah, tetapi tidak semua dokter itu adalah "dokter yang sesungguhnya". Banyak sekali dokter yang lulus hanya sekedar lulus, tidak memiliki kompetensi yang seharusnya dimilki. Padahal sebagai tenaga medis, suatu skill itu sangat dibutuhkan, apalagi dewasa ini permasalahan dunia kesehatan semakin kompleks. Suatu kompetensi adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang dokter dalam menjalani profesinya. Salah satu kompetensi tersebut adalah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).
PE tersebut mempunyai beberapa manfaat, diantaranya untuk mempelajari distribusi, kecenderungan, dan riwayat alamiah penyakit, menjelaskan etiologi penyakit, memprediksikan kejadian penyakit, dan dapat mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan (Hardjobesari, 2009). Salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan selama 30 tahun terakhir di berbagai daerah di Indonesia adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini telah menyebar di seluruh provinsis dan 75% dari seluruh jumlah kabupaten/kota. Angka insidensi secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun (Depkes RI, 2007). Melihat betapa telah merebaknya DBD menjadi endemi di Indonesia, penyelidikan epidemiologi sangat perlu dilakukan. Untuk mendapatkan kompetensi itu, sebagai calon dokter, kami mempelajarinya melalui kegiatan Field Lab. Kegiatan ini dilakukan di salah satu puskesmas yang ditunjuk universitas sebagai sarana mencapai kompetensi tersebut, yaitu Puskesmas Grogol 2, Sukoharjo.




B.     TUJUAN PEMBELAJARAN
1.   Mampu menjelaskan berbagai cara penanggulangan DBD di Indonesia.
2.   Melakukan penyelidikan epidemiologi.
  1. Menentukan tindakan penanggulangan yang harus diambil dari hasil penyelidikan epidemiologi.
  2. Menentukan adanya KLB DBD.
  3. Menjelaskan cara penanggulangan KLB DBD.
  4. Menjelaskan cara evaluasi penanggulangan KLB DBD.
 
BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A.    PENGARAHAN KEGIATAN
Sebelum dilaksanakan kegiatan Field Lab, kami mendapatkan bekal ilmu mengenai program imunisasi melalui Kuliah Pengantar Field Lab di Fakultas Kedokteran UNS. Setelah itu diadakan pretest untuk mengetahui sampai mana pemahaman mengenai Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue sebelum terjun ke lapangan. Kegiatan Field Lab dilaksanakan di Puskesmas Grogol 2, Sukoharjo, selama 3 hari. Hari pertama kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 Mei 2009. Kegiatan yang dilakukan adalah penjelasan dari instruktur puskesmas mengenai pelaksanaan penyelidikan epidemiologi DBD, baik persiapan, langkah, dan alat-alat yang dibutuhkan. Selain itu, instruktur juga mengadakan pretest untuk mengetahui sampai mana persiapan kami dalam melakukan kegiatan Field Lab tersebut.

B.     PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
Kegiatan kedua dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 29 Mei 2009 di salah satu Pondok Pesantern putri dan rumah penduduk di kelurahan Sanggrahan yang dipandu oleh salah satu instruktur dari Puskesmas. Kegiatan PE ini dialakukan karena telah ada pelaporan dari warga mengenai adanya penderita DBD di daerah tersebut. Sebelum berangkat ke tempat sasaran, kami telah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan imunisasi, antara lain senter, abate, form PE, dan alat tulis. Di Pondok Pesantren, yang diperbolehkan masuk hanyalah yang putri sehingga tidak semua anak melakukan PE di sana. Di sana, kami memulai PE sesuai prosedur dalam melakukan PE. Kami mengecek dan mencari jentik di setiap tempat penampungan air, bak mandi, serta barang-barang bekas yang tergenang air. Hasil yang kami dapatkan dicatat dalam form PE. Setelah itu, tak lupa kami bertanya mengenai penderita yang terkena DBD.
Tujuan kami selanjutnya adalah menuju rumah penduduk yang dilaporkan adanya penderita DBD. Kami dibagi menjadi beberapa tim untuk menyelidiki dari rumah ke rumah. Penyelidikan yang kami lakukan sama seperti yang dilakukan saat di Pondok Pesantren. Kami bertanya mengenai identitas pemilik rumah, mencari tersangka, dan penderita tambahan, serta mengecek dan memeriksa jentik-jentik. Kami mencatat seluruh data yang kami dapatkan kemudian melaporkan kepada instruktur puskesmas yang membimbing kegiatan PE kami. Setelah kegiatan yang direncanakan selesai, kami kembali ke kampus.

C.    REVIEW KEGIATAN
Setelah mendapat materi dan telah melaksanakan PE yang dibimbing instruktur dari puskesmas, pada hari ke-3, yaitu hari Jumat tanggal 5 Juni 2009, kami akan mendapatkan review dari Instruktur mengenai kegiatan yang telah kami lakukan.


BAB III
PEMBAHASAN

Pelaksanaan kegiatan Field Lab tentu tidak lepas dari kendala. Adapun beberapa kendala yang kami alami, diantaranya:
1.      Waktu pelaksanaan kegiatan yang mundur dari waktu yang telah direncanakan karena keterlambatan kami yang disebabakan beberapa dari kami yang tersesat ketika mencari jalan.
2.      Saat PE di lokasi pertama, yaitu pondok pesantren, hanya beberapa dari kami yang dapat melakukan.
3.      Kami tidak melakukan PE pada daerah radius 100 meter dari pondok pesantren sehingga tidak bisa menentukan house indeksnya.
4.      Tidak dapat mengecek rumah penderita DBD karena sedang di rumah sakit (rumahnya kosong).
5.      Keterbatasan waktu yang kami miliki sehingga pelaksanaan tidak secara total (tidak benar-benar sesuai prosedur).
Walaupun terdapat banyak kendala, kami tetap berusaha menjalani dengan sebaik mungkin. Kami memanfaatkan waktu yang ada tersebut untuk melakukan kegiatan sebaik-baiknya. Selain itu, dengan perubahan rencana lokasi sudah ditetapkan sebelumnya (rumah penderita) kami langsung mencari sasaran lain dan ternyata kegiatan berlangsung dengan baik.
Untuk kegiatan Field Lab ini, bisa dikatakan menunjang. Hal-hal yang harus dilakukan untuk memenuhi kompetensi sudah terlaksana.


BAB IV
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Dari kegiatan Field Lab yang telah kami lakukan di Puskesmas Grogol 2, Sukoharjo, kami sudah bisa mencapai kompetensi menjelaskan persiapan yang harus dilakukan sebelum PE, menanyakan pada keluarga / tetangga tersangka/kasus DBD tentang ada atau tidaknya penderita panas 1 minggu sebelumnya dengan sebab yang tidak jelas, melakukan pemeriksaan jentik di tandon air dalam atau luar rumah, menjelaskan tindakan yang harus dilakukan, mencatat hasil pemeriksaan di for PE, dan dapat menetukan tindakan penanggulangan DBD.
Dalam kegiatan PE yang telah kami lakukan, tindakan yang seharusnya dilakukan dalam penatalaksanaan DBD pada kelurahan Sanggrahan Baru adalah melakukan PSN di luar dan di dalam rumah serta fogging dalam radius 200 meter dalam 2 siklus.  

B.     SARAN
1.      Abatesasi seharusnya tetap dilaksanakan untuk tindakan pencegahan.
2.      Prosedur PE seharusnya lebih diperhatikan, sehingga tidak hanya sekedar mencari jentik nyamuk saja.


DAFTAR PUSTAKA

Hardjobesari, Imam Syafi’i. 2009. Epidemiologi Infeksi dan Penyakit Tropis. Unpublished Paper Presented At Kuliah Blok Penyakit Tropis dan Infeksi Fakultas Kedokteran UNS.
 Tim Field Lab FK UNS dan UPTD Puskesmas Sibela Surakarta. 2009. Manual Field Lab : Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue. Surakarta :  Field Lab FK UNS

Imunisasi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Semakin lama jumlah dokter semakin bertambah, tetapi tidak semua dokter itu adalah "dokter yang sesungguhnya". Banyak sekali dokter yang lulus hanya sekedar lulus, tidak memiliki kompetensi yang seharusnya dimilki. Padahal sebagai tenaga medis, suatu skill itu sangat dibutuhkan, apalagi dewasa ini permasalahan dunia kedehatan semakin kompleks. Suatu kompetensi adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang dokter dalam menjalani profesinya. Salah satu kompetensi tersebut adalah imunisasi.
Di negara berkembang, terutama daerah pedesaan yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya dalam program imunisasi, sering terjadi wabah campak dengan angka kematian yang tinggi. Namun, dengan adanya program imunisasi yang terus menerus digalakkan selama ini, jumlah kematian karena penyakit campak menurun drastis. Menurut WHO setiap tahunnya di dunia ini terdapat 1,5 juta kematian bayi berusia 1 minggu dan 1,4 juta bayi lahir mati. Angka Kematian Bayi di Indonesia menurut hasil sensus penduduk tahun 1990 masih cukup tinggi, yaitu 74 per 1000 kelahiran hidup. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986 dan 1992 menunjukkan bahwa penyakit tetanus neonatorium selalu berada pada kelompok 3 besar penyebab utama kematian bayi (Khalidatunnur dan Masriati, 2007). Program ini merupakan intervensi kesehatan yang paling efektif, yang berhasil meningkatkan angka harapan hidup.  The Expended Program on Immunisation dari WHO telah merekomendasikan vaksinasi terhadap 7 penyakit sebagai imunisasi rutin di negara berkembang, yaitu BCG, Polio, DPT, Campak, dan Hepatitis B. Namun, masih banyak anggapan yang salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat. Banyak pula orang tua dan kalangna praktisi tertentu khawatir terhadap resiko dari beberapa vaksin. Perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi pada bayi dan anak tidak hanya memeberikan pencegahan terhadap anak tersebut, tetapi juga akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan tingkat imunitas secara umum di masyarakat.
Melihat betapa pentingnya arti imunisasi, tidak salah jika imunisasi dijadikan sebuah kompetensi yang harus dicapai oleh dokter. Untuk mendapatkan kompetensi itu, sebagai calon dokter kami mempelajarinya melalui kegiatan Field Lab. Kegiatan ini dilakukan di salah satu puskesmas yang ditunjuk universitas sebagai sarana mencapai kompetensi tersebut, yaitu Puskesmas Masaran II sragen.

B.     TUJUAN PEMBELAJARAN
1.   Mampu menjelaskan dasar-dasar imunisasi dan imunisasi dasar di Indonesia.
2.   Mampu melakukan manajemen program dan prosedur imunisasi dasar bayi dan balita, anak sekolah, ibu hamil dan calon pengantin wanita di Puskesmas mulai perencanaan, cold chain vaksin, pelaksanaan (termasuk penanganan Kejadian Pasca Imunisasi/KIPI), pelaporan dan evaluasi.

BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A.    PENGARAHAN KEGIATAN
Sebelum dilaksanakan kegiatan Field Lab, kami mendapatkan bekal ilmu mengenai program imunisasi melalui Kuliah Pengantar Field Lab yang dialaksanakan pada tanggal 31 Maret 2009 di Fakultas Kedokteran UNS. Setelah itu diadakan pretest untuk mengetahui sampai mana pemahaman mengenai Program Imunisasi sebelum terjun ke lapangan. Kegiatan Field Lab dilaksanakan di Puskesmas Masaran II, Sragen, selama 4 hari. Hari pertama kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 17 April 2009. Kegiatan yang dialakukan adalah penjelasan dari instruktur puskesmas mengenai pelaksanaan imunisasi. Adapun hal-hal yang dijelaskan instruktur adalah sebagai berikut:
1.      Menghitung jumlah sasaran berdasarkan jumlah sasaran bayi tahun lalu yang diproyeksikan untuk tahun ini
Rumus = jumlah bayi kecematan th lalu x jumlah bayi kabupaten th ini
               Jumlah bayi kabupaten th lalu

2.      Target cakupan
Target cakupan di Puskesmas Masaran II disesuaikan dengan target Imunisasi Pemerintah Surakarta, yaitu sebagai berikut:
-          BCG   : 95% per tahun (7,9% per bulan)
-          DPT1  : 95% per tahun (7,9% per bulan)
-          DPT2  : 95% per tahun (7,9% per bulan)
-          DPT3  : 90% per tahun (7,5% per bulan)
-          Polio1 : 95% per tahun (7,9% per bulan)
-          Polio2 : 90% per tahun (7,5% per bulan)
-          Polio3 : 90% per tahun (7,5% per bulan)
-          Campak : 90% per tahun (7,5% per bulan)
-          HB Uniject : 75% per tahun (6,25% per bulan)

3. Indeks Pemakaian Vaksin adalah rata-rata jumlah dosis yang diberikan untuk setiap ampul/vaksin.
      IP Vaksin = Jumlah suntikan (cakupan) th lalu
                           Jumlah vaksin yang terpakai th lalu
      Dari rumus tersebut ditetapkan IP standar nasional
-          BCG    : 20 / 20
-          Polio    : 8 / 10
-          DPT     : 4 / 5
-          TT        : 8 / 10
-          HB      : 1 / 1
-          Campak : 8 / 10

4.      Menghitung Kebutuhan Vaksin
      Rumus= jumlah sasaran x target (%)
                              IP Vaksin

5.      Merencanakan kebutuhan alat suntik dan safety box
      - Alat Suntik= sasaran x target cakupan (untuk alat suntik 0,05 dan 0,5 ml)
      - Untuk alat suntuk 5 mL (oplos), kebutuhan vaksin = jumlah vaksin yang dibutuhkan.
Safety box adalah kotak tempat pembuangan limbah medis tajam. Ada dua macam yaitu 5 liter (menampung 100 alat suntik atau 300 uniject) dan 0.25 liter (menampung 10 uniject). Imunisasi yang diadakan di puskesmas ini menggunakan safety box ukuran 5 liter.
rumus = jumlah alat suntik BCG + DPT + TT + campak + untuk oplos
                                                                           100

6.      Menghitung kebutuhan peralatan rantai vaksin
No.
Jenis
Kebutuhan
Daya Tahan
1
Lemari Es
1 buah
10 tahun
2
Vaccine Carrier
3-5 buah
4 tahun
3
Thermos + 4 bh cold pack
Sejumlah tim lapangan
4 tahun
4
Cold Box
1 buah
5 tahun
5
Freeze Tag/ Freeze Watch
Sejumlah tim lapangan
5 tahun

7.      Perlakuan Terhadap Vaksin
Semua vaksin disimpan pada suhu 2°C-8°C dan bagian bawahnya diletakkan cold pack. Vaksin diletakkan berdasarkan kesensitivannya. Vaksin yang sensitive terhadap panas adalah polio, campak, dan BCG diletakkan dekat evaporator, sedangkan yang sensitive terhadap pembekuan  adalah hepatitis B dan DPT diletakkan jauh dari evaporator.
Selain tanggal kadaluarsa, efektivitas vaksin juga dimonitor oleh VVM, yaitu sejenis stiker yang ditempelkan pada botol vaksin. Jika warna segi empat bagian dalam lebih terang dari warna gelap sekelilingnya, maka kondisi vaksin masih baik dan dapat digunakan. Vaksin harus segera digunakan jika warna warna bagian dalam sudah mulai gelap namun masih terang dari warna gelap sekitarnya dan vaksin sudah tidak boleh digunakan jika warna segi empat dalam lebih gelap/sama gelap dengan bagian di sekelilingnya.
Pada persiapan untuk menunggu dilaksanakannya imunisasi, vaksin diletakkan di atas spon yang di bawahnya diletakkan cold pack. Vaksin dibuka dan dilarutkan apabila jumlah peserta sudah mencukupi karena vaksin akan rusak. Vaksin BCG hanya bertahan 3 jam setelah dilarutkan sedangkan campak bertahan tidak lebih dari 6 jam.
Selain menerangkan hal-hal di atas, instruktur juga melakukan demo pelaksanaan imunisasi mulai dari persiapan sampai pemberiannya.

B.     PENGAMATAN IMUNISASI
Kegiatan kedua dilaksanakan pada hari selasa tanggal 21 April 2009 di Posyandu Pringanom. Tanggal ini menyesuaikan waktu pelaksanaan imunisasi di tempat tersebut. Sebelum berangkat ke Posyandu, pihak Puskesmas telah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan imunisasi, antara lain alat suntik, vaksin, safety box, vaccine carrier beserta vaksin-vaksinnya. Di Posyandu, kami tidak melakukan imunisasi secara langsung, tetapi hanya mengamati proses tersebut yang dikerjakan oleh ibu-ibu bidan. Imunisasi yang dilakukan adalah campak, polio, DPT-HB (Combo), TT, dan BCG. Karena keterbatasan waktu yang kami miliki, kami hanya bisa melihat imunisasi campak, polio, dan combo saja.
Vaksin campak diberikan secara subkutan di bagian deltoit lengan kiri. Sebelum diberikan larutkan vaksin dengan 5 mL aquadest. Lalu gunakan jarum suntik 0,5 mL untuk mengambil vaksin tersebut. Usaplah kulit anak yang akan diimunisasi menggonakan kpasa dengan air hangat sebelum jarum ditusukkan. Sterilisasi tidak menggunakan alkohol karena akan merusak vaksin. Cubit sedikit kemudian jarum ditusukkan 45o.
Vaksin BCG di berikan secara intradermal jarum hampir sejajar dengan lengan pasien. Lokasinya sama seperti campak, hanya saja di lengan kanan. Vaksin ini sebelum digunakan juga harus dilarutkan dulu dengan 4 mL pelarut NaCl faali. Vaksin diambil 0,5 mL. Disuntikkan samapai terlihat indurasi.
Vaksin Polio diberikan dengan injeksi, tapi melalui oral. Biasanya diberikan 2 tetes. Vaksin Polio diberikan 4 kali. Polio 1 diberikan bersama BCG dan Hb uniject. Polio 2 diberikan bersama Combo 1, polio 3 bersama Combo 2, dan Polio 4 diberikan bersama Combo 3.
Combo merupakan gabungan dari vaksin DPT dan HB. Vaksin ini diberikan secara intramuskuler dengan sudut 90o dibagian femur lateralis superior. Sebelum jarum ditusukkan reanggangkan kulit terlebih dahulu. Vaksin Tetanus juga sama seperti Combo. Vaksin yang disuntikkan sejumlah 0,5 mL.
Adapun data beberapa anak yang diimunisasi, yaitu sebagai berikut:
No
Nama Anak
Jenis Kelamin
Umur
Jenis Imunisasi
1
Morista
Perempuan
1 bulan
BCG
2
Aulia
Perempuan
5 bulan
DPT/HB (Combo)
3
Hanum
Perempuan
9 bulan
DPT-3 dan Campak




C.    REVIEW KEGIATAN
Setelah mendapat materi pengamatan secara langsung, pada hari ke-3, yaitu hari Jumat tanggal 24 April 2009, diadakan proses evaluasi oleh pihak Puskesmas. Kami dievaluasi terhadap ilmu yang sudah diterima dari hari-hari sebelumnya untuk memantapkan kompetensi mengenai imunisasi tersebut. Kemudian pada hari terakhir,hari Jumat tanggal 1 Mei 200, kami mempresentasikan seluruh kegiatan yang kami lakukan. Kami juga mendapat mendapatkan tambahan materi mengenai imunisasi dari Kepala Puskesmas Masaran II, Sragen.


BAB III
PEMBAHASAN

Pelaksanaan kegiatan Field Lab tentu tidak lepas dari kendala. Pada hari pertama kegiatan sudah  bisa dikatakan lancar. Instruktur sudah menjelaskan mengenai perhitungan-perhitungan dan persiapan yang harus dilakukan sebelum imunisasi. Namun, memang ada beberapa hal yang belum dijelaskan, yaitu penghitungan sasaran ibu hamil, anak sekolah, dan wanita usia subur. Hal tersebut mungkin memang karena kegiatan imunisasi yang akan dilaksanakan hanya untuk para bayi saja. Selain itu mengenai KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) juga belum dijelaskan. Seharusnya hal tersebut juga tidak boleh terlupakan karena KIPI juga masuk sebagai salah satu kompetensi yang harus dicapai dalam program imunisasi. Tentunya sebagai seorang dokter tidak hanya bisa melaksanakan imunisasi, tetapi juga harus bisa menganalisa kejadian-kejadian yang timbul sesudahnya.
Kegiatan imunisasi tidak dilaksanakan di Puskesmas Masaran II, melainkan di Posyandu Pringanom sejak pukul 08.00 – 09.30. Pada hari ke dua, terdapat hambatan waktu. Seharusnya imunisasi bisa dilaksanakn pada pukul 08.00, tetapi baru dimulai pada pukul 09.00. Karena kami ada kegiatan di kampus, yaitu kuliah pada jam 10.00, kami tidak bisa mengikuti kegiatan imunisasi tersebut hingga selesai dan hanya bisa melihat beberapa jenis imunisasi saja, yaitu Combo, Polio, dan Campak. Dalam pelaksanaan imunisasi, kami mengamati ada bebrapa langkah penyuntikkan yang tidak sesuai dengan prosedur, seperti harusnya dialakukan aspirasi terlebih dahulu, merenggangkan kulit untuk injeksi intramuskuler, mencubit kulit untuk injeksi subkutan. Mungkin hal tersebut karena adanya beberapa hambatan, seperti anak yang menangis dan memberontak, sehingga menjadi tergesa-gesa. Untuk pelaksanaan imunisasi di Posyandu Pringanom, mengenai cakupan sudah tercapai, dengan rincian sebagai berikut:
-          BCG    : imunisasi 7 anak dari total 88 anak (7,9% -- tercapai)
-          DPT / HB : imunisasi 11 anak dari total 88 anak (12,5% -- tercapai)
-          DPT3 + campak : imunisasi 7 anak dari total 88 anak (7,9% -- tercapai)
Dari cakupan yang telah ditetapkan, dapat digunakan untuk merencanakan kebutuhan alat suntik, yaitu:
-          Alat suntik 0,05 ml untuk imunisasi BCG
Kebutuhan = sasaran x target cakupan BCG
 = 88 x 95% = 84 alat suntik BCG per tahun
-          Alat suntik 0,5 ml untuk imunisasi DPT, DT, TT, Campak, Hepatitis.
Kebutuhan = sasaran x target cakupan DPT, DT, TT
                   = 88 x 95%
                   = 84 alat suntik DPT, DT, TT per tahun.
Kebutuhan = sasaran x target cakupan Campak
                   = 88 x 90%
                   = 79 alat suntik Campak per tahun.
Kebutuhan = sasaran x target cakupan Hepatitis B
                   = 88 x 75%
                   = 66 alat suntik Hepatitis B per tahun.
Selain waktu, jumlah peserta imunisasi yang sedikit menjadi penghambat dari kegiatan ini. Hal tersebut mungkin keasadaran dari warga sekitar mengenai imunisasi kurang, bias juga sosialisasi dari pihak puskesmas atau posyandu juga kurang. Pada hari selanjutnya kami kira acara sudah berjalan cukup lancar. Kekurangan kami adalah hanya melaksanakan imunisasi tetapi tidak menjalankan pengamatan terhadap KIPI. Hal ini disebabkan waktu yang memang terbatas untuk kegiatan Field Lab. Padahal untuk KIPI dibutuhkan waktu tidak hanya 1atau 2 jam saja, tetapi bisa lebih dari 1 hari. Namun, dari pengamatan kami setelah dilaksanakannya imunisasi waktu itu reaksi bayi seperti menangis bisa dimasukkan dalam KIPI yang ringan.

BAB IV
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Dari kegiatan Field Lab yang telah kami lakukan di Puskesmas Masaran II, kami sudah bisa mencapai kompetensi menghitung jumlah sasaran, menentukan target cakupan, menghitung indeks pemakaian vaksin, menghitung kebutuhan vaksin, merencanakan kebutuhan alat suntik dan safety box, menghitung kebutuhan peralatan rantai vaksin, pengelolaan peralatan dan rantai vaksin (penyimpanan vaksin, pengelolaan vaksin yang sudah dibuka), dan menentukan kondisi vaksin dengan VVM (Vaccine Vial Monitor). Kami belum bisa mencapai kompetensi KIPI karena dalam kegiatan yang telah dilakukan, KIPI tidak dilaksanakan.

B.     SARAN
1.      Walaupun sasaran kegiatan imunisasi yang akan dilakukan adalah bayi, tidak ada salahnya penghitungan sasaran ibu hamil, wanita usia subur, dan anak sekolah juga dijelaskan agar tidak hanya tahu sebatas bayi saja.
2.      Mengenai KIPI seharusnya dijelaskan agar dapat mencapai kompetensi dan dilaksanakan sebagai evaluasi dari imunisasi yang telah dilakukan.
3.      Waktu antara puskesmas dan fakultas bisa lebih disesuaikan agar kegiatan bisa berjalan lebih lancar.
4.      Kesadaran masyarakat mengenai imunisasi harus lebih ditingkatkan dengan pengadaan sosialisasi atau penyuluhan-penyuluhan.
5.      Pelaksanaan imunisasi seharusnya tidak hanya pada bayi, tetapi bisa juga untuk ibu hamil, anak usia sekolah, atau wanita usia subur.


DAFTAR PUSTAKA

Khalidatunnur dan Masriati Maeta. 2007. Isu Mutakhir Imunisasi. http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/12/11/isu-mutakhir-imunisasi/. 30 April 2009.
Tim Field Lab FK UNS dan UPTD Puskesmas Sibela Surakarta. 2009. Manual Field Lab : Keterampilan Imunisasi. Surakarta :  Field Lab FK UNS