Cari Blog Ini

Laman

Tampilkan postingan dengan label BLOK Hematologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLOK Hematologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Trombositopenia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Perdarahan sangat sering terjadi di kehidupan, baik itu karena luka kecil, luka besar, menstruasi, dan lain sebagainya. Normalnya, orang tidak memperdulikan karena darah yang keluar akan segera berhenti. Namun, pada sebagian orang justru mengalami permasalahan dalam hal tersebut. Darah yang keluar bisa segera berhenti atau tidak diatur oleh suatu sistem yang disebut sistem hemostasis dimana ada beberapa faktor yang memegang peranan. yaitu pembuluh darah (sel endotel), trombosit, kaskade koagulasi, dan sistem fibrinolisis.
Contoh kasus dari kekurangan salah satu faktor sistem hemostasis adalah trombositopenia, suatu keadaan dimana kadar trombosit rendah. Pasien dengan trombositopenia sering menimbulkan masalah dalam diagnosis dan peƱatalaksanaan. Diagnosis banding trombositopenia banyak sekali dimana dapat terjadi penurunan produksi di satu sisi dan terjadi percepatan destruksi di sisi lain.
Skenario
Nn cantisekali, seorang gadis berusia 20 tahun, belum kawin, datang ke dokter dengan keluhan menorrhagia sudah berlangsung selama 2 minggu. Gejala ini baru pertama kali terjadi. Sebelumnya Nn. Cantisekali tidak menderita sakit apapun, tidak panas, tidak ada riwayat trauma, dan tidak minum obat. Dari hasil pemeriksaan didapatkan purpura pada paha kanan dan kiri. Sehari kemudian keluhan bertambah yaitu perdarahan saat gosok gigi. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin 10 g/dL, jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit dalam batas normal, sedang jumlah trombosit 40.000/uL.
Dokter memeberikan obat hemostatik dan memberi pengantar untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan.
Hipotesis
Pasien dalam skenario menderita trombositopenia

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana mekanisme gejala yang timbul terhadap penyakit yang diderita pasien?
2.      Bagaimana interpretasi hasil test laboratorium?
3.      Apa saja test-test lain yang diperlukan untuk menunjang diagnosis?
4.      Mengapa purpura terjadi di paha kanan dan kiri?
5.      Bagaimana mekanisme dan efek obat hemostatik?
6.      Bagaimana mekanisme hemostasis normal dan abnormal?
7.      Bagaimana terjadinya menstruasi?
8.      Apa kaitan antara faktor penyakit, trauma, dan obat terhadap menorrhagia?
9.      Apakah ada hubungan umur dan status pasien (belum kawin) dengan timbulnya menorrhagia?

C.    TUJUAN
1.      Memahami mekanisme hemostasis normal dan abnormal
2.      Memahami mekanisme menstruasi.
3.      Mengetahui diagnosis banding yang harus dilakukan untuk diagnosis penunjang.
4.      Memahami mekanisme gejala yang ditimbulkan terhadap penyakit tersebut.
5.      Megetahui nilai normal dan makna dari hasil laboratorium yang didapat untuk menegakkan diagnosis.

D.    MANFAAT
1.      Mahasiswa dapat menganalisis penyakit yang berkaitan dengan heme.
2.      Mahasiswa dapat membaca dan mengaitkan hasil laboratorium dengan diagnosis penyakit.
3.      Mahasiswa mampu mengaitkan gejala yang satu dengan yang lainnya terhadap penyakit yang diderita.
4.     Mahasiswa dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat dari penyakit yang didiagnosis.

BAB II
STUDI PUSTAKA

A.    TROMBOSIT
Trombosit merupakan hasil fragmentasi sitoplasma megakariosit (Suharti, 2007) yang berfungsi dalam proses pembekuan darah, modulasi respons inflamasi, dan sitotoksis sebagai sel efekstor penyembuhan jaringan (Guyton and Hall, 2007). Jumlah normal trombosit untuk orang dewasa wanita berkisar antara 150.000 – 450.000/mL (Dorland, 2006). Keadaan dimana jumlah trombosit turun disebut trombositopenia sedangkan jumlah trombosit yang meningkat disebut trombositosis (Price and Lorraine, 2007).
Proses pembentukan trombosit diwalai dari sel stem pluripoten dimana merupakan awal dari segala sel yang berdiferensiasi  menjadi sel yang lebih spesifik. Sel stemp pluripoten akan berdiferensiasi membentuk CFU-S (unit pembentuk koloni limpha) kemudian berdiferensiasi lagi salah sutanya menjadi CFU-M (unit pembentuk koloni megakariosit) yang akan berkembang menjadi megakariosit. Megakariosit ini dilepas ke sirkulasi. Lalu sitoplasma dilepas (mengalami fragmentasi) membentuk trombosit (Guyton and Hall, 2007). Proses tersebut dirangsang oleh trombopoietin (hormon yang mengatur produksi trombosit) yang diproduksi sebagian besar di hepar dan sisanya di ginjal (Suharti, 2007). Trombosit 1/3 nya dsimpan di limpha yang normal, tetapi pada splenomegaly, bisa mencapai 90%nya (Suharti, 2007).
Trombosit mempunyai banyak ciri khas fungsional sel lengkap, walaupun tidak mempunyai inti dan tidak dapat bereproduksi. Di dalam sitoplasmanya terdapat faktor-faktor aktif seperti (1) molekul aktin dan miosin serta trombostenin, yang menyebabkan trombosit berkontraksi; (2) sisa-sisa retikulum endoplasma dan aparatus golgi yang menyintesis banyajk enzim dan menyimpan sejumlah besar ion Kalsium; (3) mitokondria dan sistem enzim yang mampu membentuk ATP dan ADP; (4) Sistem enzim yang menyintesis prostaglandin, hormon yang menyebabkan berbagai reaksi pembuluh darah dan reaksi jaringan local lainnya; (5) faktor stabilisasi fibrin (faktor XIII); dan (6) faktor pertumbuhan, untuk pertumbuhan seluler dan perbaikan sel yang rusak (Guyton and Hall, 2007).
Membran sel trombosit mengandung glikoprotein, yang mencegah perlekatan dengan endotel normal dan menyebabkan perlekatan dengan daerah dinding pembuluh cedera (adhesi) (Guyton and Hall, 2007). Didalamnya mengandung 2 reseptor, yaitu GP Ib/IX untuk adhesi dan GP IIb/IIIa untuk agregasi (Ariningrum, 2009). Selain itu terdapat juga fosfolipid yang berfungsi mengaktifkan proses pembekuan darah (Guyton and Hall, 2007).

B.     HEMOSTATIS
Hemostasis adalah mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahanuntuk mencegah kehilangan darah yang berlebihan dari tubuh. Yang memegang peran utama dalam hemostasis adalah sel endotel, kualitas dan kuantitas trombosit, kaskade koagulasi, dan system fibrinolitik (Ariningrum, 2009).
1.      Sel Endotel
Saat terjadi cedera, endotel akan mengeluarkan faktor von Willebrand (vWf) bersama GP Ib/IX dari trombosit akan menyebabkan adhesi dan bersama GP IIb/IIIa menyebabkan agregasi (Ariningrum, 2009). Endotel juga menghasilkan faktor jaringan (faktor III) yang befungsi sebagai faktor koagulasi. Selain mengeluarkan bahan-bahan tesebut, endotel juga menyebabkan pembuluh darah vasokonstriksi (Suharti, 2007) sehingga dapat menyediakan waktu untuk dibentuk sumbat trombosit (Guyton and Hall, 2007).
2.      Trombosit
Sel endotel yang rusak menyebabkan jaringan kolagen terpapar sehingga menarik trombosit dan bersinggungan dengan jaringan yang rusak. Sifat trombosit menjadi berubah drastis. Trombosit membengkak, irregular dengan tonjolan mencuat dari permukaannya. Protein kontraktilnya berkontraksi dengan kuat sehingga terjadi pelepasan granula yang mengandung berbagai faktor aktif. Glikoprotein trombosit bersama vWf menyebabkan trombosit mengalami adhesi dan agregasi. Trombosit menyekresi ADP, serotonin, dan enzim-enzim lain yang membentuk tromboksan A2. ADP dan tromboksan A2 menyebabkan terjadi agregasi (penempelan satu sama lain molekul yang sama) sehingga menghasilkan sumbat trombosit (trombosit plug) (Guyton and Hall, 2007).
3.      Kaskade Koagulasi
Sumbat trombosit yang terbentuk masih bersifat sementara, untuk itu perlu dibentuk bekuan darah (thrombus). Dalam system koagulasi ini ada 3 jalur yang terlibat, yaitu jalur intrinsik, ekstrinsik, dan bersama (Ariningrum, 2009). Namun, yang paling mendominasi adalah jalur ekstrinsik karena jalur ini pada perdarahan yang hebat dapat menghentikan selama 15 detik saja dan faktor-faktor yang telibat pun sedikit. Sedangkan faktor intrinsik memerlukan waktu 1 – 6 menit utuk terjadi pembekuan. Sistem ini berakhir pada pembentukan fibrin (Guyton and Hall, 2007).

Darah kontak dengan kolagen
 


Jalur Ekstrinsik
 

Jalur intrinsik
 
                                                          









(Guyon and Hall, 2007)
4.      Sistem Fibrinolitik
Sistem ini merupakan rangakaian yang fibrinnya dipecahkan oleh plasmin menjadi produk-produk degradasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan (Price and Lorraine, 2007). Dengan adanya sistem ini, maka bekuan darah tidak akan menyebar ke jaringan sekitar yang dapat menyebabkan trombosis. Namun, jika sistem ini berlebih, akan terjadi perdarahan. Untuk itu ada beberapa inhibitor untuk mencegah sistem fibrinolitik yang berlebih.





































F. XIIa
 

Prekalikrein
 







































































































 (Suharti, 2009)
C.    MENSTRUASI
Sejak lahir, ada banyak folikel primordial di bawah capsula ovarium (Ganong, 2008). Pada saat pubertas, hipofisis mulai menyekresi FSH dan LH untuk pematangan folikel menjadi folikel de Graaf (Guyton and Hall, 2007). Setelah folikel tersebut matang, akan robek dan mengeluarkan ovum di dalamnya (Ganong, 2008). Folikel yang robek tersebut menjadi banyak pembuluh darah dan membentuk corpus leteum dan menghasilkan sejumlah kecil estrogen dan progesteron yang terus meningkat. Hormon-hormon tersebut merangsang penebalan endometrium. kelenjar-kelenjar menjadi hipertrofi dan berproliferasi serta pembulub darah menjadi sangat banyak. Sampai pada hari ke 23, corpus luteum mulai beregresi. Hormon estrogen dan progesteron menurun drastis (Price and Lorraine, 2007). Oleh karena itu, dinding endometrium mengalami penipisan kembali. Terjadi nekrosis pada pembuluh darah di dalamnya. Hal tersebut menyebabkan perdarahan yang berbercak-bercak, yang bila menyatu menimbulkan aliran menstruasi (Ganong, 2008).

D.    TOMBOSITOPENIA
Trombositopeneia ditandai dengan perdarahan spontan, waktu perdarahan yang memanjang, serta PTT dan PT yang normal. Trombositopenia ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
1.      Penurunan produksi trombosit
-   Penyakit sumsum tulang generalisata
-   Gangguan selektif pada produksi trombosit
-   Megakariopoiesis yang tidak efektif
2.      Penurunan usia trombosit
-      Destruksi imunologik
-      Destruksi nonimunologik
3.      Sekuestrasi
-   Hipersplenisme
4.      Pengenceran
(Robbins et. Al., 2007).
E.     OBAT HEMOSTATIK
Obat hemostatik merupakan suatu bahan yang berfungsi untuk menghentikan aluran perdarahan (Dorland, 2006). Obat ini secara umum terbagi menjadi 2:
1.      Hemostatik Lokal
a.       Hemostatik Serap
Menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan buatan atau memberi jala serat-serat yang mempermudah pembekuan bila diletakkan langsung pada permukaan yang berdarah. Dengan kontak pada permukaan asing, trombosit akan pecah dan membebaskan faktor koagulsi.
b.      Astringen
Mengendapkan protein darah sehingga perdarahan dapat dihentikan.
c.       Koagulan
Memiliki dua cara kerja. Sebagai aktivator protrombin dan sebagai trombin, yang secara langsung menggumpalkan fibrinogen.
d.      Vasokonstriktor

2.      Hemostatik Sistemik
  1. Faktor VIII dan cryoprecipitated antihemophilic factor
Untuk mengatasi perdarahan pada hemofili A dan pada pasien yang darahnya mengandung penghambat F. VIII
  1. Kompleks Faktor IX
Mengandung F. II, VII, IX, dan X
  1. Desmopresin
Meningkatkan F. VIII dan vWf
  1. Fibrinogen
  2. Vitamin K
Merangsang pengaktifan faktor koagulan yang dependent vit K (F. II, VII, IX, dan X)
  1. Asam Aminokaproat
Menghambat plasminogen dan plasmin
  1. Asam Traneksamat
(Gunawan et.Al., 2007)


BAB III
PEMBAHASAN

Seorang pasien datang dengan keluhan menorrhagia yang sudah berlangsung selama 2 minggu. Menorrhagia perlu dibedakan dengan hipermenorrhea. Menorrhagia merupakan perdarahan haid yang berlangsung lama atau berkepanjangan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kelainan pada uterus, kelainan darah, dan gangguan fungsional (Mansjoer, Arif. 2008) Sedangkan Hipermenorrhea adalah perdarahan yang berlebih. Jika melihat dari umurnya yang masih masa-masa produktif dan statusnya yang belum kawin, bisa dikatakan hal tersebut merupakan suatu keabnormalan.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan purpura pada paha. Keluhan tambahan yang muncul adalah perdarahan saat gosok gigi. Perdarahan saat gosok gigi dapat dialami oleh siapapun. Mengingat pembuluh darah pada gusi juga tipis, sedangkan gusi selalu kontak dengan makanan sehingga sering tejadi gesekan yang mengakibatkan trauma pada pembuluh darah. Begitu juga saat gosok gigi. Bulu-bulu sikat gigi yang tajam bisa melukai pembuluh di gusi sehingga terjadi ruptur. Namun bila pada orang yang normal, retak-retak pada pembuluh darah bisa langsung diperbaiki oleh trombosit.
Dari tanda-tanda dan gejala yang muncul bisa di duga penyakit ini berkaitan dengan sistem hemostasis. Lalu melihat riwayatnya yang tidak menderita sakit apapun, tidak panas, tidak ada trauma, dan tidak minum obat bisa diperkirakan penyebab tersebut adalah fakor dari dalam tubuh. Jika pasien tersebut panas kemungkinan ada semacam infeksi yang mepengaruhi timbulnya gejala tersebut. Sebelumnya tidak mengalami trauma, tapi ditemukan purpura. Trauma di sini yang dimaksud adalah suatu cedera (Dorland, 2006) karena adanya tekanan dari luar (Robbins, 2007). Hal tersebut menunjukkan purpura yang terjadi adalah akibat perdarahan spontan. Kemungkinan terjadi trauma kecil yang tidak disadari dan karna ada gangguan hemostasis, terjadi perdarahan. Obat pun tentu mempengaruhi terhadap sistem hemostasis. Obat seperti aspirin, indometasin, dan fenilbutazon dapat mengahambat agregasi dan reaksi pelepasan trombosit. Selain itu warfarin dapat mengahambat vitamin K.
Sekarang yang perlu dianalisis adalah faktor yang mana yang menimbulkan gangguan pada hemostasis. Pembuluh darah, trombosit, koagulasi, ataukah fibrinolisis yang berlebih. Purpura disebabkan oleh permeabelitas atau fragilitas pembuluh darah yang meningkat (Suharti, 2007). Tetapi jika trombosit normal, maka kerusakan tersebut bisa segera diatasi dengan pembentukan sumbat trombosit. Tapi bisa juga trombositnya memadai tetapi faktor koagulasi kurang atau sistem fibrinolisis yang berlebihan. Dari tes laboratorium didapatkan jumlah trombosit yang rendah. Hal tersebut menunjukkan kondisi trombositopenia. Dengan keadaan seperti ini jelas mengakibatkan gangguan dalam hemostasis, khususnya membentuk sumbat trombosit. Bila sumbat ini tak terbentuk atau hanya sedikit, maka proses selanjutnya juga akan terhambat. Pemeriksaan Hb juga menunjukkan kadar yang rendah. Padahal untuk wanita dewasa kadar normalnya adalah 12 – 16 g/dL (Nelson, 2000). Hal ini bisa disebabkan oleh perdarahan yang dialami oleh wanita tersebut.
Trombositopenia disebabkan oleh banyak hal dan mengakibatkan berbagai penyakit. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan lain seperti pembuatan apusan darah tepi (jika didapatkan hitung trombosit yang rendah) kemudian pemeriksaan waktu perdarahan untuk perkiraan in vivo respons trombosit terhadap cedera vaskular terbatas (normal: 3 – 8 menit). Untuk pemeriksaan sistem koagulasi dapat dilakukan test PT (protrombin Time), PTT (Parsial Tromboplastin Time), dan TT (TrombinTime). Pada PT normalnya adalah 10 – 14 detik, jika memanjang berarti terjadi defisiensi faktor V, VII, atau X; protrombin atau fibrinogen. PTT memiliki waktu normal 30 – 40 detik, jika memanjang berarti terjadi defisiensi faktor V, VIII, IX, X, XI, XII, protrombin, fibrinogen, atau inhibitor didapat yang mengganggu jalur intrinsik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai integritas jalur pembekuan intrinsik dan bersama. sedangkan TT untuk menilai defisiensi fibrinogen atau adanya hambatan terhadap trombin. TT memiliki waktu normal 14 – 16 detik. Pemeriksaan fungsi trombosit juga dapat dilakukan melalui tes agregasi trombosit, yaitu mengukur penurunan penyerapan sinar pada plasma kaya trombosit sebagai agregasi trombosit. Selain itu ada pemeriksaan fibrinolisis untuk memeriksa peningkatan aktivitas plasminogen dalam sirkulasi yang ditandai dengan memendeknya euglobulin clot lysis time (Suharti, 2007; Robbins et. Al., 2007).
Dokter tersebut memberikan obat hemostatik dan memberi pengantar untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan. Penagntar tersebut bertujuan untuk dilakukannya test lab yang dapat menunjang diagnosis pasti. Mengingat test yang dilakukan juga tidak murah, maka dokter memberikan obat sementara sebelum dialkukan pemeriksaan. Obat hemostatik ada berbagai jenis dan diberikan sesuai dengan penyebab dari gangguan hemostasis tersebut tersebut. Karena belum dialakukan pemeriksaan lain untuk ditegakkan diagnosis pasti, untuk sementara doketr dapat memberikan obat yang memiliki fungsi pengganti trombosit. Biasanya berupa obat lokal.
 
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
1.   Terjadi defisiensi atau kelainan pada salah satu pada pelaku hemostasis akan terjadi gangguan pada proses penghentian perdarahan.
2.     Trombosit sangat berperan dalam proses hemostasis sebagai pembentuk sumbat trombosit (trombosit plug) yang mempengaruhi proses hemostasis selanjutnya.
3.  Gejala-gejala yang dialami pasien timbul akibat defisiensi trombosit yang ditunjang dengan hasil laboratorium yang menunjukkan hitung trombosit yang rendah.
4.  Pasien mengalami trombositopenia dimana penyebab atau jenisnya belum bisa ditentukan karena pemeriksaan yang dilakukan belum bisa digunakan untuk menetapkan diagnosis pasti.
5.     Obat hemostatik diberikan sesuai dengan penyebab dari terjadinya gangguan hemostasis, bisa berupa lokal maupun sirkulasi.

B.     SARAN
1.   Untuk melakukan diagnosis pasti dari suatu penyakit diperlukan pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk penyakit tersebut.
2.      Pemberian obat sementara dapat diberikan untuk penanganan gejala yang timbul jika belum dilakukan tes laboratorium penunjang.

 DAFTAR PUSTAKA

Ariningrum, Dian. 2009. Hemostasis. Unpublished Paper Presented At Kuliah Blok Hematologi Fakultas Kedokteran UNS.
 Dorland, W.A. Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland-Edisi 29. Jakarta: EGC.
 Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
 Gunawan, Sulistia Gan et. Al. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
 Guyton, A.C., John E. Hall, 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
 Mansjoer, Arif et. Al. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Ketiga. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
 Nelson, Waldo et. Al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Volume 2. Jakarta: EGC.
 Price, Sylvia A and Lorraine M Wilson. 2005. Patofisologi Volume 2. Jakarta: EGC.
 Robbins, Stanley L et. Al. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins Volume 2. Jakarta: EGC.
 Suharti, C. 2007. Dasar-Dasar Hemostasis. Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Leukimia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Leukemia merupakan penyakit yang tidak pandang bulu. Semua jenis kelamin baik anak-anak dan dewasa bisa terkena, walaupun dengan persentase yang berbeda-beda. Ada berbagai faktor penyebab yang menimbulkan terkenanya penyakit ini dan menimbulkan jenis leukimia yang berbeda-beda.
Tidak mudah dalam menetapkan jenis leukemia yang diderita. Leukimia merupakan penyakit yang disebabkan oleh sel tumor dan jelas terkait dengan gen yang mengatur. Untuk itu, dalam menetapkan dibutuhkan berbagai test sampai bisa digunakan untuk diagnosis pasti. Tapi tidak semua dokter berhak atas pelasanaan test-test tersebut. Oleh karena itu, harus dilihat kewenangan-kewenangan tiap strata.

Skenario
Ny. Kassian DL, seorang wanita berusia 42 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan lemas, pucat, mudah capai, kadang panas. Keluhan tersebut dirasakan dudah sejak 6 bulan terakhir, akhir-akhir ini sering disertai perdarahan lewat hidung. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: pucat, gizi kesan kurang. Suhu aksiler 38,5oC, frekuensi nadi 108 x/menit, irama teratur, tekanan darah 124/78 mmHg, frekuensi nafas 18 x/menit. Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, papil lidah atrofi, tidak ditemukan pembengkakan gusi. Terdapat limfadenopati leher. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hepatomegali dan splenomegali. Hasil pemeriksaan laboratorium: Hb 7,5 g/dL, jumlah lekosit 24.500/mm3. jumlah trombosit 67x103/mm3. Penderita dianjurkan dirujuk ke rumah sakit.

Hipotesis
Pasien dalam skenario dicurigai menderita leukemia akut.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana mekanisme gejala yang timbul terhadap penyakit yang diderita pasien?
2.      Apa makna pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter?
3.   Apakah makna dari pemeriksaan kadar Hb yang dilakukan dan apakah diperlukan tes laboratorium yang lain untuk mendiagnosis penyakit tersebut?
4.      Mengapa dokter menganjurkan agar pasien dirujuk ke rumah sakit?

C.    TUJUAN
1.      Menjelaskan mekanisme leukopoiesis.
2.      Memahami mekanisme gejala yang ditimbulkan terhadap penyakit tersebut.
3.      Megetahui manfaat dilkakukannya pemeriksaan fisik dan test laboratorium terhadap diagnosis yang diperoleh.
4.      Memahami nilai normal dari hasil pemeriksaan yang dialkukan.

D.    MANFAAT
1.      Mahasiswa dapat menganalisis penyakit yang berkaitan dengan heme.
2.      Mahasiswa dapat membaca dan mengaitkan hasil laboratorium dengan diagnosis penyakit.
3.     Mahasiswa dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat dari penyakit yang didiagnosis.

 BAB II
STUDI PUSTAKA

A.    LEUKOSIT
Leukosit atau sel darah putih merupakan unit sel pertahanan tubuh yang mobil. Sel ini sebagian dibentuk di sumsum tulang (granulosit dan monosit serta sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma). Manfaat sel darah putih yang sesungguhnya ialah sebagian besar diangkut secara khusus ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius, dengan demikian menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap agen-agen infeksius.
Secara umum ada 2 jenis leukosit, yaitu Granulosit (netrofil, eosinofil, dan basofil) dan Agranulosit (monosit, limfosit, dan sel-sel plasma). Granulosit dan monosit berfungsi melindungi tubuh terhadap organisme penyerang dengan cara fagositosis. Sedangkan limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan system imun.
(Price and Lorraine, 2007; Guyton and Hall, 2007)

B.     TROMBOSIT
Trombosit merupakan hasil fragmentasi dari sel megakariosit yang berfunsi dalam proses pembekuan darah (Guyton and Hall, 2007). Keadaan dimana jumlah trombosit turun desibut trombositopenia sedangkan jumlah trombosit yang meningkat disebut trombositosis (Price and Lorraine, 2007).

C.    LEUKOPOIESIS
Leukopoiesis merupakan proses pembentukan sel darah putih. Awal mula leukosit adalah dari sel stem hemopoietik pluripoten. Lalu membentuk suatu jalur diferensiasi yang disebut commited stem cell. Sebelum berkembang menjadi berbagai macam leukosit yang spesifik dibentuk terlebih dahulu suatu koloni pembentuk, yang disebut CFU-S (unit pembentuk koloni limfa). Kemudian membentuk beberapa koloni yang diantaranya CFU-GM, yang nantianya berdiferensiasi menjadi netrofil, basofil, eosinofil, dan monosit, dan CFU-M yang akan berkembang menjadi megakariosit. Sedangkan limfosit terbentuk bukan dari CFU-S, melainkan dari LSC (Lymphoid Stem Cell). LSC ini akan berkembang menjadi Limfosit-T dan Limfosit-B.
(Guyton and Hall, 2007)

D.    PERADANGAN DAN LINI PERTAHANAN TUBUH
Peradangan merupakan perubahan sekunder di sekeliling jaringan yang cedera dimana efek dari zat yang dikeluarkan jaringan tersebut. Peradangan atau inflamasi memiliki ciri-ciri:
-          Vasodilatasi pembuluh darah lokal
-          Peningkatan permeabelitas kapiler
-          Sering terjadi pembekuan caitan di ruang interstisial
-          Migrasi granulosit dan monosit yang banyak ke jaringan
-          Pembengkakan sel jaringan.
Bila diaktifkan oleh produk infeksi dan peradangan, efek mula-mula terjadi adalah pembengkakan setiap sel dengan cepat sehingga banyak makrofag yang sebelumnya terikat kemudian lepas dari perlekatannya dan menjadi mobil. Hal tersebut merupakan lini pertama pertahanan tubuh. Lini kedua berupa invasi netrofil ke daerah peradangan. Lini selanjutnya, masuknya monosit bersama invasi dari netrofil. Setelah berada di dalam jaringan monosit akan membesar menjadi makrofag dan memfagosit agen-agen infeksius. Lini pertahanan yang terakhir terjadi peningkatan hebat produk granulosit dan monosit oleh sumsum tulang.
(Guyton and Hall, 2007)

E.     LEUKEMIA
Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel induk hematopoietik yang secraa maligna melakukan transformasi yang menyebabkan penekanan dan penggantian unsur sumsum yang normal (Price and Lorraine, 2007). Secara umum leukimia dibagi menjadi dua tipe, yaitu limfositik dan mielositik (Guyton and Hall, 2007). Keduanya ada yang akut dan kronik. Leukemia mielositik akut maupun kronik sering ditemukan pada orang dewasa semua umur dan akan meningkat setelah berumur 40 tahun. Untuk leukemia limfositik akut lebih sering pada anak-anak di bawah umur 15 tahun. Sedangkan leukemia limfositik kronik pada orang dewasa < 40 tahun (Price and Lorraine, 2007).
1.      Leukemia Akut
a.       Leukimia Mielositik Akut (LMA)
Disebut juga Leukemia Granulositik Akut (LMA) atau Leukimia Non Limfositik Akut (LNLA) (Price and Lorraine, 2007). Faktor yang menyebabkan predisposisi LMA diantaranya benzene, paparan ion radiasi, trisomi 21, dan kemoterapi. Patogenesisnya adalah adanya blokade maturitas yang menyebabkan proses diferensiasi sel seri mieloid terhenti pada sel muda menyebabkan akumulasi sel blast di sumsum tulang sehingga terjadi gangguan hematopoiesis dan terjadilah sindrom kegagalan sumsum tulang (Kurnianda, 2007).
Manifestasinya berupa berkurangnya sel hematopoietik normal, terutama granulosit dan trombosit. Pasien sering mengalami enfeksi atau perdarahan atau keduanya saat didiagnosis. Menggigil, demam, takikardia, dan takipnea sering merupakan gejala yang muncul. Trombositopenia menyebabkan timbulnya perdarahan di kulit, membran mukosa, saluran cerna, dan saluran kemih (Price and Lorraine, 2007). Pasien juga didapatkan leukosit yang tinggi (Kurniando, 2007).
 b.      Leukemia Limfositik Akut (LLA)
Faktor yang menyebabkan hampir sama dengan LMA. Patogenesis yang sering terjadi adalah kelainan sitogenetika. Hilangnya atau inaktivasi gen supresor tumor yang mempunyai peranan penting dalam mengontrol progresi siklus sel. Gejala dan tanda yang muncul diantaranya adalah anemia, anoreksia, nyeri tulang dan sendi, demam dan banyak keringat, infeksi, perdarahan (kulit, gusi, otak, saluran cerna), hepatomegali, splenomegali, limfadenopati, massa di mediastinum (Fianza, 2007). Dalam pemeriksaan biasanya didapatkan sel darah putih umumnya meningkat, tetapi bisa juga normal atau rendah, limfositosis, jumlah trombosit, netrofil, dan sel darah merah rendah. Sumsum tulang biasanya hiperseluler disertai adanya infiltrasi limfoblas. Tetpai perlu juga dilakukan tes sitogenetik dan imunotyping (Fianza, 2007).

2.      Leukemia Kronik
a.       Leukemia Mielositik Kronik (LMK)
Leukemia ini disebabkan oleh kelainan kromososm Philadelphia, yaitu translokasi resiprok antara lengan panjang kromosom 9 dan 22 (Fadjari, 2007). kelainan kromosom ini mempengaruhi sel induk hematopoietik dan karenanya terdapat pada garis sel mieloid, serta beberapa garis limfoid. Tanda yang muncul berupa leukositosis hebat tanpa gejala infeksi, splenomegaly, cepat lelah, lemah badan, demam yang tak terlalu tinggi, keringat malam, tidak ditemukan anemia (tapi ditemukan pada beberapa kasus). Leukosit dan trombosit naik sedangkan Hb normal atau rendah (Price and Lorraine, 2007).

b.      Leukemia Limfositik Kronik (LLK)
Penyebab dari leukemia ini adalah abnormalitas kromosom, onkogen, dan retrovirus. Kebanyakan LLK tidak menunjukkan gejala (asimptomatik). Pada pasien dengan gejala, paling sering ditemukan limfadenopati generalisata, peurunan berat badan, dan kelelahan. Gejala lain meliputi nafsu makan dan penurunan kemampuan olahraga, demam, keringat malam. Pada akhhirnya akan mengalami limfadenopati, splenomegali, dan hepatomegali (Rotty, 2007). Pneumonia, ikterus obstruktif, disfagia, edema ekstrimitas bawah (Price and Lorraine, 2007). Pada hasil lab didapatkan peningkatan absolut limfosit.


BAB III
PEMBAHASAN

Dalam skenario disebutkan beberapa keluhan, seperti lemas, pucat, mudah capai, dan kadang panas. Tanda-tanda yang saling berkaitan tersebut merupakan tanda dari anemia, dimana Hb dan eritrosit turun. Hal tersebut ditunjang dengan konjungtiva pasien yang anemis, yang dimaksud di sini konjungtiva pucat. Lalu Hb yang didapatkan rendah, yaitu 7,5 g/dL. Padahal untuk wanita dewasa normalnya adalah 12 – 16 g/dL (Nelson et. Al., 2000). Kondisi anemis tersebut bisa menjadi salah satu kemungkinan terjadinya atrofi papil lidah. Karena kekurangan eritrosit dan Hb, maka oksigen yang diikat tidak bisa segera disampaikan ke jaringan yang membutuhkan, apalagi papil lidah merupakan saluran kecil yang buntu, akhirnya terjadilah atrofi. Anemia tersebut juga bisa berhubungan dengan frekuensi nadi yang agak tinggi yang didapatkan dari pemeriksaan fisik. Darah yang sedikit tersebut agar mampu menyalurkan oksigen kepada jaringan yang membutuhkan, memerlukan aliran yang cepat, dengan begitu, jantung akan memompa lebih cepat pula, manifestasinya adalah kenaikan frekuensi nadi tersebut. Pengecekkan adanya ikterus juga perlu dilakukan sebagai acuan apakah terjadi perombakan sel darah merah yang berlebihan sehingga menyebabkan reduksi protoporfirin menjadi biliverdin kemudian menjadi bilirubin, terutama bilirubin indirek yang berlebihan. Jika terjadi ikterus kemungkinan pasien menderita anemia hemolitik (Price and Lorraine, 2007).
Perdarahan lewat hidung ini memang sangat mudah terjadi mengingat pembuluh darah di hidung sangat tipis. Pembuluh ini memiliki fungsi sebagai penghangat udara yang masuk sehingga panas cepat dikeluarkan ke permukaan. Oleh karena tipisnya, pembuluh tersebut akan lebih mudah terjadi luka baik karena trauma atau spontan (Wiernik, 1985). Pendarahan pada bagian ini biasanya sangat banyak dan terjadi diantaranya karena viskositas darah yang tinggi sehingga terjadi perbedaan tekanan atau karena curah jantung yang besar dan keadaan pembuluh darah yang setiap hari menipis. Keadaan-keadaan yang menjadi penyebab pendarahan pada hidung sebetulnya dapat diatasi segera dengan proses hemostasis sehingga pendarahan tidak berlangsung lama. Retakan-retakan dan penipisan pada orang normal jarang terakumulasikan karena kerusakan sedikit akan menyebabkan proses hemostasis berlangsung. Namun pada orang-orang dengan kelainan hemostasis seperti trombositopenia akan mengalami pendarahan yang hebat dan berlangsung lama (Wiernik, 1985).
Gejala lain yang timbul seperti demam (Suhu di atas normal, yaitu 36 – 37oC). Hal ini bisa berkaitan dengan sistem imun tubuh. Agen-agen infeksius ketika menginfeksi akan mengeluarkan suatu zat yang merangsang peningkatan suhu pada penderita untuk memacu keluarnya antibodi dan sel-sel fagosit. Demam tersebut bisa disebabkan oleh bekerjanya sistem imun terhadap agen-agen infeksius tersebut. Pemeriksaan pembengkakan gusi adalah sebagai penanda apakah terjadi infiltrasi sel-sel leukemik (Mehta and Hoffbrand, 2008). Pembengkakan gusi tersebut manifestasi dari efek peradangan dari agen infeksiosa atau bisa karena trauma. Mengingat gusi merupakan mukosa yang tipis dan terdapat pembuluh darah, sangat rentan terhadap trauma sperti gesekan dari luar, tekanan gigi, ataupun kontak dengan makanan. Pembengkakan gusi merupakan ciri khas dari kelainan leukemia myelositik, sehingga inviltrasi yang terjadi adalah inviltrasi dari sel-sel granulositik yang abnormal (Price and Lorraine, 2007).
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan pasien terlihat kurang gizi. Hal ini bisa disebabkan oleh hasil metabolisme digunakan oleh sel tumor untuk berkembang, sehingga sel tubuh yang normal akan kekurangan asupan gizi (Guyton and Hall, 2007). Limfadenopati merupakan pembesaran kelenjar getah bening (Dorland, 2006). Limfadenopati yang ditemukan merupakan penyebab dari banyaknya jumlah sel-sel leukosit baik normal maupun abnormal yang terkumpul disana mengingat limfa merupakan slaha satu organ penghasil leukosit. Kejadian ini dapat merupakan respon fisiologis tubuh dalam sistem imunitas sebagai manifestasi dari adanya invasi antigen-antigen dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh sehingga produksi sel-sel leukosit yang meningkat menyebabkan inviltrasi sel-sel leukosit ke dalam kelenjar getah bening. Secara patologis juga merupakan ciri dari adanya leukemia karena adanya sel-sel leukemik abnormal yang melakukan inviltrasi (Wiernik, 1985). Hyperplasia juga bisa menyebabkan terjadinya pembesaran tersebut (Ganong, 2008). Hepatomegaly juga hampir sama dengan limfadenopati. Sel-sel leukosit yang abnormal akan menyebabkan terjadi banyak perombakan sel-sel leukosit abnormal oleh sel-sel kupfer di sinusoid-sinusoid hepar sehingga jika jumlahnya banyak akan menyebabkan pembesaran karena hepar penuh dengan leukosit atipikal dan abnormal baik yang telah dirombak maupun yang belum (Guyton and Hall, 2007). Sedangkan splenomegali biasanya  merupakan manifestasi dari infiltrasi sel-sel leukosit yang abnormal dan hemopoesis extramedullar (Guyton, 1996).
Setelah melihat hasil test lab yang dialakukan bisa lebih menghubung-hubungkan gejala yang terjadi dengan suatu penyakit. Jumlah leukosit naik (normal: 4.500 – 11.000 /mm3) tetapi trombosit turun (normal: 150.000 – 450.000/mm3). Menunujukkan bahwa leukosit tersebut adalah leukosit yang abnormal, sehingga dapat menekan proses pembentukan sel darah yang lain. Kenaikkan jumlah sel-sel ini pada sumsum tulang menyebabkan penekanan pada sel-sel bakal terkait tugas dan sel-sel pembentuk sel darah lain (Widmann, 1995). Oleh karena itu pasien dapat dicurigai terkena leukemia. Lalu dilihat dari awitanntya, pasien menrasakan hal tersebut sejak 6 bulan. Hal ini menunjukkan masih dalam waktu yang singkat. Dari sini bisa diduga bahwa pasien tersebut terkena leukemia akut.
Dokter menganjurkan pasien dirujuk ke Rumah Sakit mengacu pada kewenangan tingkatan strata yang sudah diatur. Strata yang ada kewenangan untuk melaksanakan pemeriksaan lanjutan seperti aspirasi atau biopsy sumsum tulang merupakan kewenangan rumah sakit. Selain itu, Rumah Sakit juga memilki fasilitas yang lebih lengkap untuk dilakukan pemeriksaan sitogenetik dan immunotyping, sehingga dapat ditegakkan diagnosis pasti terhadap penyakit tersebut dan diberikan penanganan yang tepat.


BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN
1.      Penyakit yang diderita paien adalah leukemia akut.
2.      Anemia yang diperoleh sebagai manifestai dari leukemia.
3.      Sel leukosit yang abnormal dapat terjadi karena sel tumor.
4.      Pemeriksaan penunjang belum bisa dilaksanakan oleh strata pertama seperti dokter umum, yang hanya dapat diberikan oleh dokter umum adalah pengobatan simptomatis dan pencegahan adanya pendarahan.

B.     SARAN
1.      Untuk melakukan diagnosis pasti dari suatu penyakit diperlukan pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk penyakit tersebut.
2.      Merujuk pasien ke strata yang lebih berwenang untuk dilakukan suatu tindakan terhadap pasien.
 
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A. Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland-Edisi 29. Jakarta: EGC.
 Fadjari, Heri. 2007. Leukimia Granulositik Kronis. Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
 Fianza, Panji Irani. 2007. Leukimia Limfoblastik Akut. Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
 Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
 Guyton, A.C., John E. Hall, 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
 Kurnianda, Johan. 2007. Leukimia Mieloblastik Akut. Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
 Mehta, Atul; Hoffbrand, Victor. 2008. At a Glance Hematologi. Jakarta. Penerbit Erlangga.
 Nelson, Waldo et. Al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Volume 2. Jakarta: EGC.
 Price, Sylvia A and Lorraine M Wilson. 2005. Patofisologi Volume 2. Jakarta: EGC.
 Rotty, Linda W. A. 2007. Leukimia Granulositik Kronis. Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
 Widmann, Frances. K. 1995. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium Edisi 9. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
 Wiernik, Peter H. 1985. Leukemias and Lymphomas (Contemporary Issues in Clinical Oncology Vol 4). Churchill Livingstone.