Cari Blog Ini

Laman

Kamis, 26 Mei 2011

Penyelidikan Epidemiologi DBD


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Semakin lama jumlah dokter semakin bertambah, tetapi tidak semua dokter itu adalah "dokter yang sesungguhnya". Banyak sekali dokter yang lulus hanya sekedar lulus, tidak memiliki kompetensi yang seharusnya dimilki. Padahal sebagai tenaga medis, suatu skill itu sangat dibutuhkan, apalagi dewasa ini permasalahan dunia kesehatan semakin kompleks. Suatu kompetensi adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang dokter dalam menjalani profesinya. Salah satu kompetensi tersebut adalah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).
PE tersebut mempunyai beberapa manfaat, diantaranya untuk mempelajari distribusi, kecenderungan, dan riwayat alamiah penyakit, menjelaskan etiologi penyakit, memprediksikan kejadian penyakit, dan dapat mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan (Hardjobesari, 2009). Salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan selama 30 tahun terakhir di berbagai daerah di Indonesia adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini telah menyebar di seluruh provinsis dan 75% dari seluruh jumlah kabupaten/kota. Angka insidensi secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun (Depkes RI, 2007). Melihat betapa telah merebaknya DBD menjadi endemi di Indonesia, penyelidikan epidemiologi sangat perlu dilakukan. Untuk mendapatkan kompetensi itu, sebagai calon dokter, kami mempelajarinya melalui kegiatan Field Lab. Kegiatan ini dilakukan di salah satu puskesmas yang ditunjuk universitas sebagai sarana mencapai kompetensi tersebut, yaitu Puskesmas Grogol 2, Sukoharjo.




B.     TUJUAN PEMBELAJARAN
1.   Mampu menjelaskan berbagai cara penanggulangan DBD di Indonesia.
2.   Melakukan penyelidikan epidemiologi.
  1. Menentukan tindakan penanggulangan yang harus diambil dari hasil penyelidikan epidemiologi.
  2. Menentukan adanya KLB DBD.
  3. Menjelaskan cara penanggulangan KLB DBD.
  4. Menjelaskan cara evaluasi penanggulangan KLB DBD.
 
BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A.    PENGARAHAN KEGIATAN
Sebelum dilaksanakan kegiatan Field Lab, kami mendapatkan bekal ilmu mengenai program imunisasi melalui Kuliah Pengantar Field Lab di Fakultas Kedokteran UNS. Setelah itu diadakan pretest untuk mengetahui sampai mana pemahaman mengenai Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue sebelum terjun ke lapangan. Kegiatan Field Lab dilaksanakan di Puskesmas Grogol 2, Sukoharjo, selama 3 hari. Hari pertama kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 Mei 2009. Kegiatan yang dilakukan adalah penjelasan dari instruktur puskesmas mengenai pelaksanaan penyelidikan epidemiologi DBD, baik persiapan, langkah, dan alat-alat yang dibutuhkan. Selain itu, instruktur juga mengadakan pretest untuk mengetahui sampai mana persiapan kami dalam melakukan kegiatan Field Lab tersebut.

B.     PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
Kegiatan kedua dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 29 Mei 2009 di salah satu Pondok Pesantern putri dan rumah penduduk di kelurahan Sanggrahan yang dipandu oleh salah satu instruktur dari Puskesmas. Kegiatan PE ini dialakukan karena telah ada pelaporan dari warga mengenai adanya penderita DBD di daerah tersebut. Sebelum berangkat ke tempat sasaran, kami telah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan imunisasi, antara lain senter, abate, form PE, dan alat tulis. Di Pondok Pesantren, yang diperbolehkan masuk hanyalah yang putri sehingga tidak semua anak melakukan PE di sana. Di sana, kami memulai PE sesuai prosedur dalam melakukan PE. Kami mengecek dan mencari jentik di setiap tempat penampungan air, bak mandi, serta barang-barang bekas yang tergenang air. Hasil yang kami dapatkan dicatat dalam form PE. Setelah itu, tak lupa kami bertanya mengenai penderita yang terkena DBD.
Tujuan kami selanjutnya adalah menuju rumah penduduk yang dilaporkan adanya penderita DBD. Kami dibagi menjadi beberapa tim untuk menyelidiki dari rumah ke rumah. Penyelidikan yang kami lakukan sama seperti yang dilakukan saat di Pondok Pesantren. Kami bertanya mengenai identitas pemilik rumah, mencari tersangka, dan penderita tambahan, serta mengecek dan memeriksa jentik-jentik. Kami mencatat seluruh data yang kami dapatkan kemudian melaporkan kepada instruktur puskesmas yang membimbing kegiatan PE kami. Setelah kegiatan yang direncanakan selesai, kami kembali ke kampus.

C.    REVIEW KEGIATAN
Setelah mendapat materi dan telah melaksanakan PE yang dibimbing instruktur dari puskesmas, pada hari ke-3, yaitu hari Jumat tanggal 5 Juni 2009, kami akan mendapatkan review dari Instruktur mengenai kegiatan yang telah kami lakukan.


BAB III
PEMBAHASAN

Pelaksanaan kegiatan Field Lab tentu tidak lepas dari kendala. Adapun beberapa kendala yang kami alami, diantaranya:
1.      Waktu pelaksanaan kegiatan yang mundur dari waktu yang telah direncanakan karena keterlambatan kami yang disebabakan beberapa dari kami yang tersesat ketika mencari jalan.
2.      Saat PE di lokasi pertama, yaitu pondok pesantren, hanya beberapa dari kami yang dapat melakukan.
3.      Kami tidak melakukan PE pada daerah radius 100 meter dari pondok pesantren sehingga tidak bisa menentukan house indeksnya.
4.      Tidak dapat mengecek rumah penderita DBD karena sedang di rumah sakit (rumahnya kosong).
5.      Keterbatasan waktu yang kami miliki sehingga pelaksanaan tidak secara total (tidak benar-benar sesuai prosedur).
Walaupun terdapat banyak kendala, kami tetap berusaha menjalani dengan sebaik mungkin. Kami memanfaatkan waktu yang ada tersebut untuk melakukan kegiatan sebaik-baiknya. Selain itu, dengan perubahan rencana lokasi sudah ditetapkan sebelumnya (rumah penderita) kami langsung mencari sasaran lain dan ternyata kegiatan berlangsung dengan baik.
Untuk kegiatan Field Lab ini, bisa dikatakan menunjang. Hal-hal yang harus dilakukan untuk memenuhi kompetensi sudah terlaksana.


BAB IV
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Dari kegiatan Field Lab yang telah kami lakukan di Puskesmas Grogol 2, Sukoharjo, kami sudah bisa mencapai kompetensi menjelaskan persiapan yang harus dilakukan sebelum PE, menanyakan pada keluarga / tetangga tersangka/kasus DBD tentang ada atau tidaknya penderita panas 1 minggu sebelumnya dengan sebab yang tidak jelas, melakukan pemeriksaan jentik di tandon air dalam atau luar rumah, menjelaskan tindakan yang harus dilakukan, mencatat hasil pemeriksaan di for PE, dan dapat menetukan tindakan penanggulangan DBD.
Dalam kegiatan PE yang telah kami lakukan, tindakan yang seharusnya dilakukan dalam penatalaksanaan DBD pada kelurahan Sanggrahan Baru adalah melakukan PSN di luar dan di dalam rumah serta fogging dalam radius 200 meter dalam 2 siklus.  

B.     SARAN
1.      Abatesasi seharusnya tetap dilaksanakan untuk tindakan pencegahan.
2.      Prosedur PE seharusnya lebih diperhatikan, sehingga tidak hanya sekedar mencari jentik nyamuk saja.


DAFTAR PUSTAKA

Hardjobesari, Imam Syafi’i. 2009. Epidemiologi Infeksi dan Penyakit Tropis. Unpublished Paper Presented At Kuliah Blok Penyakit Tropis dan Infeksi Fakultas Kedokteran UNS.
 Tim Field Lab FK UNS dan UPTD Puskesmas Sibela Surakarta. 2009. Manual Field Lab : Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue. Surakarta :  Field Lab FK UNS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar